SLEMAN - Sleman Temple Run akan kembali digelar pada Minggu (23/8) mendatang. Gelaran kesebelas ini cukup spesial karena peserta bisa menikmati sejumlah panorama warisan cagar budaya. Di antaranya, Candi Banyunibo, Candi Barong, Candi Ratu Boko, Candi Miri, dan Candi Ijo. Para pelari juga akan melewati destinasi lain, seperti Tebing Breksi, Spot Riyadi, serta arca gupala.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Abu Bakar menjelaskan, sport tourism memang tengah digemari masyarakat luas. Harapannya gelaran Sleman Temple Run ini bisa semarak dan menarik kedatangan para wisawatan ke Bumi Sembada.
"Augustus di Sleman semarak sekali dengan berbagai gelaran event. Untuk Sleman Temple Run ini menyasar wilayah timur," katanya dalam jumpa pers di Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Jumat (7/8).
Baca Juga: Cegah Keracunan MBG, Yayasan Bijana Paksi Hadirkan Simetris: Perketat Pengawasan dari Hulu ke Hilir
Abu memahami bahwa sempat ada keterbatasan anggaran karena efisiensi sehingga berdampak pada penyelenggaraan acara ini. Bahkan sempat ada rencana untuk dihapuskan. Hanya saja dia tegaskan bahwa pemerintah kabupaten tetap memprioritaskan penyelenggaraannya meski dengan dana terbatas. Dari tahun lalu sebanyak Rp 450 juta, tahun ini jadi Rp 300 juta.
"Tentu kami dan evaluasi besok, apakah meriah atau tidak. Tapi alhamdulillah acara tetap bisa dilaksanakan," katanya.
Baca Juga: Hanif Sjahbandi Belum Fit 100 Persen, Gelandang Anyar PSS Sleman Kejar Pemulihan Jelang Super League
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Edy Winarya menjelaskan, penyelenggaraan acara ini mengusung konsep Running Around Temples. Jadi, peserta diajak lari lintas alam dari candi ke candi. Program semacam ini disebut hanya dimiliki Kabupaten Sleman dan jadi satu-satunya di dunia. Nantinya para peserta juga dimanjakan dengan sejumlah potensi seni yang disajikan untuk menyambut pelari. Ada Tari Sembagi Aruntala, Tari Edan-edanan, sampai Jathilan Kudo Song Pace.
"Tahun 2026 ini kami menargetkan peserta seribu orang. Dari tahun ke tahun memang meningkat," katanya.
Acara yang diselenggarakan pertama kali pada 2015 ini memang memiliki sejumlah keunggulan. Utamanya karena sudah terdaftar di International Trail Running Association (ITRA) dan mendapat rekomendasi dari Asosiasi Lari Trail Indonesia.
"Penyelenggaraan event merupakan salah satu strategi promosi yang diharap bisa memberi dampak signifikan pada aktivitas ekonomi," tambahnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita