SLEMAN - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Sleman menyelenggarakan sarasehan tragedi 27 Juli 1996 (Kudatuli) di Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman pada Minggu (2/8) malam. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati peristiwa tersebut sebagai tonggak perjuangan demokrasi Indonesia sekaligus untuk memperkuat pendidikan politik kader partai.
Sarasehan ini dihadiri oleh puluhan kader, pengurus anak cabang, ranting, satgas, unsur pimpinan partai, sejumlah anak muda, hingga tokoh masyarakat setempat. Mereka mengawali sarasehan dengan nonton bareng film dokumenter peristiwa kudatuli ini.
Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Sayegan, Ramelan menjelaskan, peringatan Kudatuli di Bumi Sembada cukup spesial karena diselenggarakan di 17 kapanewon dan pada malam ini adalah gelaran ke-15. Sementara di DPC lain hanya satu kali diselenggarakan saja. Dia sebut Kudatuli adalah peristiwa perjuangan demokrasi yang terjadi saat orde baru.
"Ini harus diingat karena perjuangan untuk menata negara itu tidak mudah. PDI Perjuangan tetap gigih sampai kantor dibakar, korbannya banyak ada yang meninggal, dan hilang," jelasnya memberi sambutan.
Dia berharap agar para peserta bisa mengingat terus peristiwa ini dan harapannya bisa jadi bekal untuk memperjuangkan demokrasi ke depannya. Khususnya bagi para anak muda sebagai generasi penerus bangsa.
Baca Juga: Serapan KUR UMKM Bantul Tembus Rp 1,9 Triliun, Pemkab Optimistis Ekonomi Kreatif Kian Berkembang
Hal senada disampaikan Ketua DPC PDI Perjuangan Sleman Danang Maharsa. Eks pengurus partai dan tokoh masyarakat yang diundang dalam kesempatan ini adalah upaya solidaritas untuk menolak lupa atas sejarah bangsa. Hal ini sesuai dengan pesan Soekarno yang dikenal dengan Jas Merah atau "Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah".
"Ini adalah upaya mengingat salah satu sejarah bagi partai yang tidak boleh dilupakan," katanya.
Wakil Bupati Sleman ini menerangkan, peristiwa Kudatuli memang terjadi di Jakarta, tetapi efeknya sampai pada berbagai wilayah di Indonesia. Apalagi tercatat ada lima orang yang meninggal dunia, 23 orang hilang, dan 149 luka-luka. Upaya mengingat ini bukan untuk membuka luka lama, tetapi sebagai momen refleksi bersama. Acara sarasehan ini juga sebagai upaya partai berlambang kepala banteng ini untuk terjun langsung jadi mata dan telinga masyarakat. Para kader melihat dan mendengar jika ada persoalan yang terjadi dan berusaha untuk menyelesaikannya.
"Kami akan bergotong royong menindaklanjuti masalah apapun nanti hambatannya," kata Danang. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita