SLEMAN - Hari Kemerdekaan ke-81 RI disambut semarak pemuda Dusun Trini, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Sleman. Mereka yang tergabung dalam Komunitas Selokan Mataram Rafting itu menggelar balap perahu di kanal irigasi terpanjang di Jogjakarta.
Lomba dibuka gratis untuk umum, sehingga siapa pun bisa mendaftar sebagai peserta. Panitia telah menyiapkan seluruh peralatan, sehingga peserta tidak perlu membawa perlengkapan apa pun.
Jalur balap perahu dibuat pendek, sekitar 20 meter saja. Tetapi tantangan para peserta adalah harus melawan arus Selokan Mataram.
Beberapa yang tak kuat mendayung akhirnya hanya berputar-putar dan bahkan memilih menyerah.
Baca Juga: Manajemen PSIM Jogja Komitmen Penuhi Kebutuhan Pelatih demi Bangun Skuad yang Solid dan Kompetitif
Peserta juga tak perlu khawatir apabila akhirnya tercebur ke dalam air karena mengenakan pelampung yang telah disediakan.
Kemeriahan lomba ini pun menarik perhatian warga maupun pengendara, sehingga banyak yang berhenti dan ikut mendokumentasikan momen ini.
Salah seorang pengurus Komunitas Selokan Mataram Rafting, Ilham Haris menjelaskan, penyelenggaraan acara ini adalah bentuk melestarikan warisan turun-temurun karena sejak dulu berbagai lomba kemerdekaan memang digelar di Selokan Mataram.
Hanya saja divariasikan dengan adanya lomba balap perahu.
Sekali gelaran ini disebut bjsa diikuti 50 hingga 100 perserta. "Bahkan sebelum dibuka, pendaftarnya sudah lumayan.
Target kami bukan hanya warga sini, tapi mahasiswa, bahkan masyarakat umum," katanya saat ditemui di sela-sela perlombaan, Minggu (2/8) sore.
Dia sebut lomba semacam ini memang baru digelar kali pertama. Tidak ada persyaratan khusus untuk ikut serta dan yang terpenting adalah peserta merasa sehat.
Untuk memastikan kenyamanan peserta, panitia juga membendung aliran dengan sedikit menutup pintu air.
Ketinggian muka air yang tepat ini memastikan perahu bisa mengambang sekaligus menjamin keamanan peserta apabila tersebur ke dalam air.
Menurut Ilham, gerakan dari komunitas semacam ini diyakini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terkait lingkungan Selokan Mataram.
Baca Juga: El Nino Menguat, BMKG Prediksi Ancaman Kekeringan di DIY Meningkat
Terbukti, sejak komunitas lahir tahun lalu jumlah sampah di trash barrier yang setiap pekan mereka bersihkan, terus menurun jumlahnya.
Harapannya para peserta lomba, khususnya yang didominasi anak-anak ini, bisa tumbuh dengan semangat untuk melestarikan budaya dan lingkungan ini.
"Jangan sampai ada adik kita nanti tumbuh dewasa tanpa adanya semangat seperti ini. Kami berusaha untuk terus mewariskan," katanya.
Komunitas Selokan Mataram Rafting tidak hanya menggelar lomba balap perahu. Ada juga lomba meniti bambu dan gebuk bantal.
Penyelenggaraannya dilakukan setiap akhir pekan dan puncak final lomba digelar Sabtu (15/8) dan Minggu (16/7) mendatang. Ilham menerangkan panitia telah menyiapkan sejumlah hadiah menarik yang didukung para sponsor.
Sementara itu, salah seorang peserta balap perahu, Arkan Fuad mengaku lomba ini sangat seru dan menantang karena beberapa kali perahunya oleng.
Siswa SMP asal Kota Jogja ini mengaku tadinya sedang ingin berenang di sungai, tetapi melihat ada lomba langsung mendaftar secara mendadak.
"Enggak ada persiapan, dadakan. Tapi ikut lomba semuanya," kata laki-laki 14 tahun ini. (laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja