DLH Kabupaten Sleman Uji Coba Cairan Peredam Bau Sampah untuk TPST, Hanya Butuh Biang Dicampur Gula, Katul, dan Air

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 19:30 WIB
PENGOLAHAN AKHIR: Petugas saat mengolah sampah di TPST Sendangsari, Kapanewon Minggir. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
PENGOLAHAN AKHIR: Petugas saat mengolah sampah di TPST Sendangsari, Kapanewon Minggir. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)

SLEMAN - Bau masih jadi persoalan lanjutan dalam pengelolaan sampah lewat tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Kabupaten Sleman. Kondisi ini terjadi karena kadar air yang tinggi dari sampah jenis organik. Untuk mengatasi masalah itu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman berupaya melakukan uji coba cairan yang bisa mengatasi bau busuk tersebut. 

Kepala DLH Kabupaten Sleman Junaidi menjelaskan, cairan berfungsi untuk mereduksi baru sekaligus mempercepat proses pengomposan hingga cukup satu minggu saja. Tim dari Jakarta yang membawa biang cairan ini, sementara DLH tinggal menambahkan gula pasir dan katul. "Biangnya itu saya kurang tahu karena memang rahasia perusahaan," katanya dihubungi Minggu (2/7). 

Baca Juga: Bali Resmi Jadi Tuan Rumah Semifinal dan Final Piala Presiden 2026, Hadiah Juara Naik Jadi Rp8 Miliar

Menurutnya, cara kerjanya berbeda dengan minyak cengkih yang selama ini digunakan DLH. Karena sebatas untuk menutupi bau busuk atau kamuflase saja. Sementara cairan ini diklaim benar-benar bisa mengurangi bau busuk itu sendiri. 

Meski demikian, memang tidak cukup sekali diaplikasikan dan tetap harus disemprotkan. Karena selama proses pengolahan sampah, air lindi muncul terus dan menimbulkan bau. Cairan kini tengah diperbanyak di TPST Sendangsari dan telah diujicobakan di tempat pembuangan sampah di Pasar Godean. "Memang infonya ketika disemprotkan itu berkurang banyak baunya," katanya. 

Baca Juga: Calvin Verdonk Tampil Penuh, Lille Menang Dramatis 6-3 atas OH Leuven di Laga Pramusim

Junaidi menjelaskan, cairan ini diperbanyak hingga 2.000 liter. Mekanismenya dengan mencampur biang lima liter, gula pasir dua kilogram, katul lima kilogram, dan air sebanyak 200 liter. Setelah seminggu, cairan itu dibagi menjadi sepuluh bagian dan masing-masing dibuat dengan mekanisme sama hingga 200 liter lagi.  

"Tapi yang pengembangan ini sudah tidak menambah biang lagi. Biang cuma awal tadi," katanya. 

Dia memastikan, cairan ini akan diterapkan di dua TPST Bumi Sembada yang lain ketika benar-benar terbukti efektif. Baik di TPST Donokerto maupun TPST Tamanmartani. Termasuk transfer depo sebagai sebagai sarana titik transit sekaligus penunjang pemilahan sampah. 

Baca Juga: Mikel Arteta Bungkam soal Vinicius Junior, namun Tegaskan Arsenal Siapkan Transfer Besar

Harapannya cairan ini benar-benar bisa jadi solusi untuk mengurangi masalah bau yang selama ini dikeluhkan masyarakat. Sekaligus bisa benar-benar mempercepat pengomposan sampah organik. 

 

Kepala Bidang Pengelolaan Fasilitas Perdagangan Tradisional Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman Purwoko Haryadi menyebut, saat ini cairan pengurang bau ini masih diperbanyak di TPST Sendangsari. Ketika berhasil, baru pihaknya juga akan memperbanyak dengan mengambil cairan yang sudah dikembangkan tersebut. "Saat diuji coba hasil cairan pengurang bau ini memang bagus," katanya. (del/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) dlh kabupaten sleman Pengolahan Sampah Sampah bau