SLEMAN – Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai. Berdasarkan laporan pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) selama periode 31 Juli 2026 pukul 00.00–24.00 WIB, gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu kembali memunculkan satu kali awan panas guguran serta puluhan guguran lava pijar ke sektor barat daya.
Selama satu hari pengamatan, petugas mencatat satu kejadian awan panas guguran dengan durasi sekitar 148 detik. Selain itu, sebanyak 11 kali guguran lava teramati meluncur ke arah Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2 kilometer dari puncak.
Secara visual, kondisi puncak Merapi umumnya terlihat jelas hingga tertutup kabut tipis. Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis teramati membumbung setinggi sekitar 25 hingga 50 meter di atas puncak. Cuaca di sekitar gunung bervariasi mulai dari cerah, berawan hingga mendung dengan suhu udara berkisar 16,7–26 derajat Celsius.
Data kegempaan juga menunjukkan aktivitas internal Merapi masih cukup tinggi. Dalam periode tersebut, BPPTKG merekam 85 kali gempa guguran, 88 gempa hybrid atau fase banyak, serta 13 gempa vulkanik dangkal. Rangkaian gempa tersebut mengindikasikan suplai magma ke tubuh gunung masih terus berlangsung.
Kondisi itu menjadi salah satu alasan mengapa status Gunung Merapi hingga kini tetap berada pada Level III atau Siaga. BPPTKG menegaskan bahwa aktivitas vulkanik masih berpotensi menghasilkan guguran lava maupun awan panas guguran, terutama ke sektor yang selama ini menjadi jalur aliran material.
Masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar lereng Merapi diminta mematuhi seluruh rekomendasi yang telah dikeluarkan. Potensi bahaya guguran lava dan awan panas saat ini diperkirakan mengancam sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan potensi jangkauan hingga 7 kilometer.
Sementara itu, di sektor tenggara, potensi bahaya berada di alur Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer dari puncak. Apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik juga berpotensi terlontar dalam radius sekitar 3 kilometer dari kawah.
BPPTKG mengingatkan bahwa data pemantauan masih menunjukkan adanya pasokan magma dari dalam bumi. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya awan panas guguran sewaktu-waktu di dalam kawasan potensi bahaya. Karena itu, masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas apa pun di area yang telah ditetapkan sebagai zona rawan.
Baca Juga: Modus Pecah Kaca Mobil di Magelang, saat Beli Bakso Uang Rp 150 Juta di Mobil Raib
Selain ancaman guguran lava, warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar dan awan panas guguran ketika hujan turun di kawasan puncak maupun lereng Merapi. Material vulkanik yang masih menumpuk di hulu sungai dapat terbawa aliran air dan membahayakan wilayah hilir.
Potensi gangguan akibat hujan abu juga perlu diantisipasi apabila terjadi peningkatan aktivitas erupsi. Warga disarankan menyiapkan perlengkapan pelindung seperti masker dan terus mengikuti perkembangan informasi resmi dari BPPTKG maupun pemerintah daerah.
BPPTKG memastikan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Merapi dilakukan selama 24 jam. Apabila terjadi perubahan aktivitas vulkanik yang signifikan, evaluasi terhadap tingkat aktivitas akan segera dilakukan dan disampaikan kepada masyarakat sebagai dasar langkah mitigasi.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG Yogyakarta