SLEMAN – Kabupaten Sleman kembali memperoleh kuota program transmigrasi pada 2026 setelah tidak mendapat jatah pada tahun sebelumnya. Namun hanya dua keluarga yang akan diberangkatkan ke Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Kepala Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) Jogjakarta Tunggak Santosa mengatakan, meski kuotanya hanya dua keluarga, jumlah tersebut meningkat dibanding 2025 yang tidak memperoleh alokasi sama sekali.
Menurut Tunggak, terbatasnya kuota bukan karena minimnya peminat. Melainkan bergantung pada kesiapan daerah tujuan. Mulai dari ketersediaan lahan, fasilitas, hingga infrastruktur pendukung. Pemerintah juga berupaya memastikan seluruh persiapan dilakukan secara optimal agar persoalan sengketa lahan yang pernah dialami transmigran asal Sleman tidak terulang.
Baca Juga: Masuknya Dimas Drajad Jadi Pilihan untuk Lini Depan PSS Sleman
Setiap keluarga yang lolos seleksi akan memperoleh berbagai fasilitas, antara lain rumah beserta perlengkapannya, lahan pekarangan, lahan usaha, serta bantuan jaminan hidup. Sebelum diberangkatkan, calon transmigran juga wajib mengikuti pelatihan di BBPPMT Yogyakarta, termasuk pelatihan pengelolaan lahan.
"Minatnya memang masih sangat tinggi. Rata-rata mengantre dua sampai tiga tahun baru bisa berangkat," katanya.
Ia menjelaskan, karakter wilayah Poso yang merupakan dataran tinggi membuat calon transmigran diarahkan mengembangkan komoditas perkebunan seperti kopi dan kakao. Selain itu, pemerintah daerah setempat juga membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sehingga diharapkan para transmigran mampu ikut menggerakkan perekonomian wilayah.
"Sangat banyak contoh transmigran yang sudah sukses. Ada yang usaha sewa kapal, petani durian, sampai ekspor jeruk," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sleman Epiphana Kristiyani menyebut, saat ini tercatat sekitar 30 keluarga masih mengantre untuk mengikuti program tersebut. Ia berharap keluarga yang terpilih benar-benar memiliki tekad untuk meningkatkan kesejahteraan melalui kerja keras mengelola lahan yang diberikan.
"Jadi tidak menganggur walau harus bekerja keras mengolah lahan yang menjadi haknya. Harus rajin, menjadi teladan, dan pantang menyerah," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita