SLEMAN - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Sleman menyelenggarakan sarasehan peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) di Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel pada Sabtu (25/7) malam. Peringatan tonggak perjuangan demokrasi Indonesia ini digelar secara bergantian di 17 kapanewon di Bumi Sembada. Sarasehan ini dihadiri oleh puluhan kader, pengurus anak cabang, ranting, satgas, unsur pimpinan partai, sejumlah anak muda, hingga tokoh masyarakat setempat. Mereka mengawali sarasehan dengan dengan nonton bareng film dokumenter peristiwa Kudatuli ini.
Ketua DPC PDI Perjuangan Sleman Danang Maharsa menjelaskan, kudatuli adalah peristiwa yang tidak pernah bisa dilupakan bagi keluarga besar partai berlambang kepala banteng ini. Hanya saja dia menegaskan yang perlu disoroti dan diingat bukan peristiwa kekerasan yang terjadi, tetapi semangat tokoh-tokoh masa lampau dalam memperjuangkan demokrasi.
Baca Juga: Hasil CF Montreal vs Inter Miami 0-1: Debut Casemiro Berakhir Manis, The Herons Raih Tiga Poin
"Hal terpenting adalah esensi dari Kudatuli itu. Mengingatkan bahwa PDI Perjuangan bisa berdiri dari sejarah yang panjang," katanya memberi sambutan.
Wakil Bupati Sleman ini bercerita, bahwa lewat perjuangan panjang tersebut membuat partai pimpinan Megawati ini bisa terus dicintai dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Kudatuli memang sudah 30 tahun lalu, tetapi semangatnya tidak pernah dan tidak boleh luntur. Untuk itu acara ini tidak hanya mengundang mantan pengurus partai dan tokoh masyarakat, tetapi juga para anak muda. Lantaran mereka yang nantinya jadi generasi penerus bangsa.
"Hari ini anak muda ikut diundang agar paham demokrasi, politik, dan partai itu apa. Generasi pasti akan terganti, tapi ideologi ini harus dijaga dan diturunkan," ujarnya.
Baca Juga: Hasil Santos vs Chapecoense 2-2: Peixe Gagal Raih Kemenangan Meski Neymar Cetak Brace
Menurutnya, saat itu para tokoh pendahulu partai mengalami masa-masa sulit. Belum tentu semua orang mau dijadikan pengurus, ruang untuk berkonsolidasi juga terbatas, dan partai mengalami banyak tekanan. Hanya saja berlandaskan ideologi dan rasa cinta pada PDI Perjuangan jiwa keberanian itu timbul hingga akhirnya partai bisa terus tumbuh hingga kini. Baginya, kuncinya adalah menempatkan rakyat kecil sebagai pusat perjuangan sehingga gelombang dukungan bisa terus bermunculan.
"Kudatuli menunjukkan pentingnya pondasi ideologis dalam perjuangan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat," ujarnya.
Hal senada disampaikan salah satu narasumber sarasehan ini, Aryunadi. Tokoh senior partai sekaligus pelaku sejarah ini menegaskan, pemaknaan Kudatuli bukan pada kekerasan yang menghasilkan korban jiwa, korban luka-luka, atau kerugian materil yang begitu besar. Namun, solidaritas partai bersama rakyat untuk melawan kekerasan itu. Saat itu perlawanan balik yang dilakukan PDI Perjuangan bukan dengan kekerasan. Pendekatan yang dipilih adalah penegakkan hukum sebagai bagian dari edukasi pada masyarakat.
Baca Juga: Lee Kang-in Resmi Gabung Atletico Madrid dari PSG, Teken Kontrak Selama Lima Musim
"Saat itu mahasiswa, rakyat, dan pendukung bersatu untuk bersama-sama mendukung Megawati," katanya.
Dukungan itu terus berlanjut hingga pemilu pasca-reformasi pada tahun 1999. Partai pimpinan putri proklamator ini berhasil memenangkan pemilihan dengan suara 33 persen. Aryunadi menilai jumlah tersebut tidak serta-merta dihasilkan dari dukungan kader saja, tetapi juga suara rakyat yang memberikan kepercayaannya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita