Mengabadikan Bencana, Merawat Ingatan, dan Menyalakan Harapan di Omah Petroek, Sleman

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:14 WIB
Ari Kurnia Hadi (kiri) salah seorang penikmat seni di Pameran Foto, Peluncuran Buku, dan Diskusi Foto di Omah Petroek, Sleman, Sabtu 25 Juli 2026. (Foto: Rizky Kopong/Radar Jogja)
Ari Kurnia Hadi (kiri) salah seorang penikmat seni di Pameran Foto, Peluncuran Buku, dan Diskusi Foto di Omah Petroek, Sleman, Sabtu 25 Juli 2026. (Foto: Rizky Kopong/Radar Jogja)

SLEMAN - Deretan karya foto jurnalistik berjajar rapi di Omah Petroek, Pakem, Sleman, Sabtu (25/7/2026). Setiap bingkai memotret pilu, ketangguhan, sekaligus asa dari bumi Sumatra. 

Lewat Pameran Foto, Peluncuran Buku, dan Diskusi Foto bertajuk 'Prahara Pulau Emas', Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat berkolaborasi dengan Yayasan Matawaktu dan PT PLN (Persero) mengarsipkan jejak kelam bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada penghujung 2025 lalu.

Diketahui, bencana mematikan itu melenyapkan ratusan desa, memutus akses transportasi, serta merusak infrastruktur vital seperti jaringan listrik dan komunikasi. Jutaan jiwa terpaksa mengungsi. Banyak warga hidup dalam gulita hingga berjalan ratusan kilometer demi mencari bantuan.

​Namun, pameran ini tak hanya merekam kehancuran. Di balik puing-puing bangunan, ada jejak kesigapan relawan, kerelaan berkorban, dan daya juang para penyintas serta para petugas yang berjibaku memulihkan infrastruktur vital.

Baca Juga: Usai Polemik JLFR, Akademisi, Dinas hingga Komunitas Dorong Forum Tetap dan Penataan Ruang Publik Jogja

​Ketua Umum PFI Pusat Dwi Pambudo mengatakan, pameran dan buku foto ini dihadirkan sebagai monumen ingatan kolektif. Itu agar semua pihak tak lupa betapa dahsyatnya dampak kerusakan akibat ketamakan manusia terhadap alam.

"Kolaborasi PFI Pusat, Yayasan Matawaktu, dan PLN ini menjadi jembatan penting untuk mengarsipkan peristiwa secara visual dan beretika. Setiap bingkai dikurasi bukan untuk mengeksploitasi kehancuran, melainkan merayakan ketangguhan manusia melewati masa-masa paling kritis," katanya usai pembukaan, Sabtu (25/7/2026).

​Kurator Pameran Danu Kusworo mengungkapkan, proses penyusunan buku foto ini tergolong sangat singkat. Hanya memakan waktu tak lebih dari satu bulan.

"Tantangan utamanya lebih pada mengumpulkan dan memilih karya yang senada," katanya.

Baca Juga: Kiper Cahya Supriadi Perkuat Timnas Indonesia, PSIM Jogja Berharap Bawa Pengalaman Berharga

​Dari sekitar 350 foto yang masuk dari puluhan jurnalis foto dan tim PLN, Danu mengungkapkan jika sudah terkurasi sekitar 140 foto karya 40 hingga 45 fotografer. Narasi visual dalam buku disajikan secara bertahap dalam tiga babak utama.

​"Pengbabakannya disepakati sejak awal bersama Mas Oscar Motuloh. Babak pertama memperlihatkan kehancuran masif akibat bencana. Babak kedua berfokus pada para penyintas yang berjuang bertahan hidup. Ditutup babak ketiga yang menyajikan harapan bagaimana kehidupan mulai beranjak normal," lontarnya.

Sementara, ​Executive VP Komunikasi Korporat dan TJSL PT PLN (Persero) Gregorius Adi Trianto mengungkapkan ketika bencana menerjang Sumatra, yang padam bukan sekadar jaringan listrik, melainkan aktivitas warga dan fasilitas publik. Di tengah kegelapan itu, ribuan insan bergerak menembus lumpur, hujan, dan medan terisolasi.

"Bagi PLN, listrik bukan sekadar energi, tetapi denyut kehidupan. Listrik menjaga rumah sakit tetap beroperasi, tempat ibadah kembali digunakan, dan membantu masyarakat bangkit," cetusnya. 

Baca Juga: Berjuang Melawan Gagal Ginjal, Legenda PSS Sleman dan PSIM Jogja Fajar Listiyantara Berpulang; Lemparan Jauh ke Dalam Jadi Andalan

Oleh karena itu, menurut Gregorius Adi buku dan pameran ini menjadi bukti dokumentasi keberanian serta gotong royong antara PLN, pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat. 

"Di balik setiap gardu yang beroperasi dan lampu yang menyala, ada manusia-manusia yang bekerja dengan hati. Buku ini pengingat bahwa di tengah gelap sekalipun, selalu ada harapan yang menyala," ujarnya. 

Budayawan Romo Sindhunata menilai visualisasi bencana dalam pameran tersebut menjadi tamparan sekaligus pengingat keras bagi manusia.

"Pameran ini menjadi kenangan buat kami untuk mengingat kembali, jangan sampai gegabah buat alam. Kalau tidak ada foto begini, kami tidak ingat rusaknya alam karena tingkah kami sendiri," tegasnya. 

Baca Juga: Hasil dan Update Klasemen Piala Presiden 2026: Tampines Rovers dan DPMM FC Berbagi Poin Usai Bermain Imbang 2-2

Tak hanya itu, menurut Romo Sindhunata, rekaman foto jurnalistik memiliki peran penting dalam merawat ingatan publik. "Foto kayak gini sangat penting untuk mengembalikan ingatan kepada kemurkaan kami. Jangan main-main dengan alam, karena alam akan marah kalau dirusak," tandasnya. (ayu).

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Sleman pameran foto Hargobinangun omah petroek Karangkletak