BMKG Peringatkan Potensi Gagal Panen, DP3 Sleman Lakukan Antisipasi

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 21:45 WIB
Buruh tani menanam padi di areal persawahan kawasan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Jumat (3/4). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
Buruh tani menanam padi di areal persawahan kawasan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Jumat (3/4). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

SLEMAN - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan petani untuk melakukan penyesuaian pola tanam menghadapi musim kemarau 2026. Peringatan itu menyusul prediksi terjadinya El Nino kategori kuat pada Agustus hingga Desember 2026. Fenomena alam ini berpotensi memicu kemarau lebih kering dari kondisi normal.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menyebut, curah hujan selama tiga bulan ke depan diperkirakan berada pada kategori rendah. Curah hujan pada Agustus hingga Oktober diprediksi hanya berkisar 0-20 milimeter per bulan dengan sifat hujan didominasi bawah normal. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis yang dapat berdampak pada sektor pertanian. Untuk itu diperlukan tindakan antisipatif dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen. 

 Baca Juga: Innalillahi, Mayat Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan dengan 10 Lapis Pakaian

“Terutama di wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien," katanya dalam keterangan resmi Senin (20/7). 

Reni menjelaskan, musim kemarau tahun ini diprediksi memiliki sifat hujan bawah normal di tujuh zona musim atau sekitar 87,5 persen wilayah DIY. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di seluruh wilayah DIY. 

Durasi kemarau diperkirakan berlangsung selama 19 hingga 21 dasarian di sebagian besar wilayah. Adapun akhir musim kemarau diprediksi terjadi pada dasarian I hingga II November 2026. Dia meminta pemerintah dan instansi terkait mengantisipasi dampak musim kemarau. Termasuk berkurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian maupun masyarakat.

Baca Juga: Dishub DIY Gelontorkan Rp 9,37 Miliar Bangun Parkir Ketandan, Perkuat Mobilitas Kawasan Malioboro

"Kunci utamanya adalah pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien," kata Reni. 

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Liem Astuti menjelaskan, telah membuat surat edaran yang sudah didistribusikan hingga kalurahan dalam rangka antisipasi kekeringan panjang. Dalam hal ini petani diminta untuk mengatur pola tanam hingga menggunakan benih yang tahan kekeringan. Ada sejumlah wilayah di Bumi Sembada yang dia sebut rawan, seperti Pakem, Turi, Cangkringan bagian utara, Prambanan sisi timur, hingga Seyegan sisi selatan. 

"Kekeringan pasti akan berdampak, hanya saja intensitas per wilayah itu akan berbeda. Tentu treatment-nya tergantung degan kondisi," ujarnya. 

Baca Juga: Dishub DIY Gelontorkan Rp 9,37 Miliar Bangun Parkir Ketandan, Perkuat Mobilitas Kawasan Malioboro

Dia mengakui bahwa potensi gagal panen jelas ada. Hanya saja saat ini yang terpenting adalah upaya preventif yang dilakukan agar para petani bisa melakukan perencanaan usaha tani secara lebih baik. 

Pemerintah sendiri telah menyediakan sejumlah bantuan sarana pendukung sesuai dengan bidangnya. Misalnya, bidang hortikultura dan perkebunan dengan tiga unit pompa air serta empat sumur ladang.

 

Bidang tanaman pangan lima unit pompa air dan empat unit bak penampung untuk embung. Dari dana APBN juga ada bantuan pembangunan irigasi tersier 27 unit, 14 irigasi perpompaan, dan satu unit pompa air. "Fokus kami memang melakukan antisipasi apabila memang kekeringan ini panjang," ujar Liem. (del/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
kemarau pola tanam Gagal Panen Hujan BMKG