Jadi Tonggak Demokrasi Bangsa, DPC PDI Perjuangan Sleman Refleksi 30 Tahun Peristiwa Kudatuli

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 13:28 WIB
Sarasehan Kudatuli DPC PDI Perjuangan Sleman - Delima Purnamasari/Radar Jogja
Sarasehan Kudatuli DPC PDI Perjuangan Sleman - Delima Purnamasari/Radar Jogja

SLEMAN - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Sleman menyelenggarakan sarasehan Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996 di Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman pada Minggu (19/7) malam. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati peristiwa Kudatuli sebagi tonggak perjuangan demokrasi Indonesia sekaligus untuk memperkuat pendidikan politik kader partai. 

Ketua DPC PDI Perjuangan Sleman Danang Maharsa menjelaskan, Kudatuli adalah peristiwa berskala nasional sehingga seluruh masyarakat saat itu ikut merasakan dampaknya. Hanya saja belum tentu para kader dan generasi saat ini benar-benar mengetahui apa yang terjadi saat itu sehingga sarasehan semacam ini jadi sangat penting. 

"Kudatuli adalah tonggak bersejarah yang tidak bisa dihilangkan dari kader, peristiwa yang hadir di tengah masyarakat," katanya memberi sambutan. 

Wakil Bupati Sleman ini menjelaskan, setiap tokoh penggerak partai pasti akan digantikan dengan kader yang lebih muda seiring berjalannya waktu. Hanya saja ideologi dan semangat yang dibangun sejak saat itu hingga kini tidak boleh lekang boleh waktu. Untuk itu DPC PDI Perjuangan Sleman mengajak para anak muda agar tahu secara detail sejarah politik di Indonesia.

"Itu adalah peristiwa yang membuat PDI Perjuangan bisa jadi partai besar sampai dengan saat ini. Warisi api perjuangan jangan warisi abunya," katanya. 

Baca Juga: Celtic Dapat Angin Segar, Kiper Manchester United Radek Vitek Siap Tinggalkan Old Trafford

Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati yang turut hadir dalam acara ini menerangkan, sarasehan ini adalah diselenggarakan sesuai dengan instruksi dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Peringatan ke-30 tahun ini diminta agar dibuat tidak dengan hingar-bingar, tetapi dengan kekusyukkan untuk bisa memaknai perjuangan demokrasi. 

"DPP meminta kegiatan dilaksanakan jauh dari hura-hura sehingga bisa memaknai peristiwa sebagai momentum yang sakral," tambah politisi senior PDI Perjuangan ini. 

Dalam peristiwa Kudatuli tercatat ada lima orang yang meninggal dunia, 23 orang hilang, dan 149 luka-luka. Hanya saja Esti menerangkan bisa jadi masih ada jiwa-jiwa yang gelisah karena namanya belum tercacat dalam angka tersebut. Sarasehan ini adalah momentum untuk mengirimkan doa bagi seluruh arwah pejuang demokrasi ini. 

"Kegiatan ini juga untuk menanam ingatan bagi anak muda. Agar bisa meneruskan perjuangan yang ada. Ketika ada yang tidak sesuai dan melukai masyarakat tidak boleh diam," tegasnya. 

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI, Totok Hedi Santosa menerangkan, Kudatuli adalah peringatan penting saat terjadi kebuntuan demokrasi. Dia sebut sosok yang terlibat tidak serta-merta adalah kader partai, tetapi juga orang yang simpatisan dengan partai. Baik itu dari mahasiswa maupun masyarakat umum. 

"Termasuk di dalamnya seniman dan budayawan. Rakyat semua bergerak dan bersimpati besar pada PDI Perjuangan," ujarnya. 

Dalam kegiatan ini turut disampaikan materi mengenai sejarah peristiwa kudatuli dengan dua narasumber. Pertama, adalah tokoh senior dan pelaku sejarah dalam peristiwa ini yakni Aryunadi. Dalam kesempatan ini dia tidak menyoroti kekerasan yang terjadi, tetapi menerangkan krusialnya peristiwa Kudatuli sebagai salah satu tonggak kelahiran demokrasi bangsa.

Baca Juga: Ratusan Kursi Masih Kosong, Universitas Tidar Magelang (Untidar) Buka Seleksi Mandiri One Day Service

 Termasuk bagaimana dampak peristiwa tersebut di DIJ. Narasumber kedua adalah akademisi Didik Herlambang yang menjelaskan kronologis peristiwa dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa ini. (del)

Editor : Bahana.
dpc pdi perjuangan sleman Danang Maharsa Kudatuli turi