Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tlogo Nirmolo, Wisata yang Tertidur di Lereng Merapi, antara Konservasi dan Keselamatan Pengunjung

Naila Nihayah • Sabtu, 18 Juli 2026 | 21:31 WIB
KENANGAN: Pengunjung saat berfoto di depan landmark Tlogo Nirmolo, Kaliurang, Sleman. Demi keselamatan dan keamanan, objek wisata ini resmi ditutup oleh TNGM pasca-erupsi Merapi 2010.
KENANGAN: Pengunjung saat berfoto di depan landmark Tlogo Nirmolo, Kaliurang, Sleman. Demi keselamatan dan keamanan, objek wisata ini resmi ditutup oleh TNGM pasca-erupsi Merapi 2010.

SLEMAN - Di lereng Gunung Merapi, tepatnya di kawasan Kaliurang, Sleman, terdapat satu destinasi yang pernah menjadi bagian dari wisata alam Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Tlogo Nirmolo, yang dulu dikenal sebagai lokasi trekking dan wisata alam, kini berada dalam kondisi tertidur.

Kepala Balai TNGM Tutut Heri Wibowo menyebut, keputusan penutupan ini berkaitan erat dengan faktor keselamatan. Mengingat lokasi Tlogo Nirmolo berada dalam radius rawan bencana atau berjarak sekitar 5,2 kilometer (km) dari puncak Gunung Merapi dan berada dekat dengan alur Kali Boyong.

Kondisi geografis itu, kata dia, membuat kawasan ini masuk dalam area yang direkomendasikan untuk tidak dibuka bagi aktivitas wisata. "Secara rekomendasi sebenarnya di radius 5 km. Tapi di lokasi ini lebih berisiko karena berdekatan dengan Kali Boyong yang cukup aktif. Terutama saat terjadi erupsi ke arah selatan," ujarnya saat dihubungi, Jumat (17/7/2026).

Baca Juga: KWT Kanthil Konsisten Jalankan Program Jumat Berkah, dari Kebun Sendiri untuk Sesama Warga Sendowo Lor

Dia menjelaskan, Tlogo Nirmolo terakhir kali ditutup secara penuh sejak pandemi. Sebelumnya, kawasan ini sempat dibuka kembali setelah erupsi besar di Gunung Merapi, meski aktivitasnya tidak seramai destinasi lain di kawasan yang sama.

Selain faktor jarak dari kawah, aspek visibilitas juga menjadi pertimbangan penting. Lokasi yang relatif tersembunyi membuat potensi bahaya sulit terdeteksi secara cepat oleh pengunjung jika terjadi erupsi mendadak. "Informasi juga tidak langsung bisa diterima dengan cepat oleh pengunjung," katanya.

Padahal, sebelum ditutup, Tlogo Nirmolo memiliki sejumlah daya tarik. Satu di antaranya adalah Goa Jepang, yang dapat dicapai melalui jalur trekking sejauh 700 hingga 800 meter dari pintu masuk. Selain itu, kawasan ini juga terhubung dengan jalur menuju Plawangan, titik dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dari sisi konservasi, lanjut Heri, kawasan ini merupakan bagian dari habitat alami berbagai jenis flora dan fauna di TNGM. Beberapa di antaranya termasuk satwa dilindungi seperti elang, serta berbagai jenis tumbuhan khas lereng Merapi.

Baca Juga: Motivasi Dua Ribu Pelajar Muhammadiyah, Mentan Amran: Struggle Now, Enjoy Your Life, Enjoy Now, Struggle for Life

Heri menambahkan, penutupan kawasan justru memberikan dampak positif bagi ekosistem. Minimnya aktivitas manusia dinilai mampu menjaga keseimbangan alam secara alami. "Kalau kawasan hutan semakin tidak dijamah, sebenarnya semakin baik untuk konservasi," lontarnya.

Selama masa penutupan, pengelolaan kawasan lebih difokuskan pada kegiatan patroli rutin. Petugas memantau kemungkinan adanya aktivitas ilegal seperti perburuan, penebangan liar, atau perambahan hutan.

Namun, dia menyebut, dari hasil pemantauan terakhir, sejumlah fasilitas yang dulu menjadi penunjang wisata dilaporkan mulai mengalami kerusakan. Bangunan yang tidak terawat, termasuk akses menuju Goa Jepang, kini menunjukkan tanda-tanda pelapukan.

Meski begitu, wacana untuk membuka kembali Tlogo Nirmolo belum sepenuhnya dilakukan. Pemerintah masih mempertimbangkan berbagai aspek, terutama terkait mitigasi bencana dan kesiapan sistem peringatan dini.

Heri mengutarakan, keberadaan alat pemantau aktivitas Merapi dari BMKG di beberapa titik kawasan TNGM sebenarnya menjadi potensi pendukung. Namun untuk lokasi seperti Tlogo Nirmolo, diperlukan sistem peringatan yang lebih efektif agar informasi bahaya dapat diterima secara cepat oleh pengunjung.

"Kalau sistem peringatan dini bisa menjangkau lokasi itu, tentu ada peluang untuk dibuka kembali. Tapi semua harus melalui kajian," jelas Heri.

Baca Juga: Musim Panas Dongkrak Wisatawan Mancanegara ke DIY, GIPI Prediksi Puncak Kunjungan pada Agustus

Dari sisi kunjungan, Tlogo Nirmolo memang tidak pernah menjadi destinasi dengan jumlah pengunjung tinggi. Sebelum penutupan, kunjungan akhir pekan berkisar antara 200 hingga 300 orang, sementara hari biasa cenderung lebih sepi.

Seiring penutupan, lanjut Heri, aktivitas ekonomi di sekitar kawasan praktis ikut meredup. Tidak ada lagi pedagang yang berjualan di area itu, berbeda dengan masa sebelumnya ketika kawasan ini masih aktif sebagai destinasi wisata.

Di sisi lain, warga sekitar mulai mengembangkan alternatif destinasi di luar kawasan TNGM. Satu di antaranya adalah objek wisata yang dikelola desa setempat, yang kini menjadi pilihan baru bagi wisatawan.

Heri menegaskan, hingga saat ini, Tlogo Nirmolo masih berada dalam status penutupan sementara. Namun keputusan pembukaan kembali sepenuhnya bergantung pada rekomendasi teknis dan kondisi aktivitas Gunung Merapi. (aya/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
tlogo nirmolo \kaliurang guo jepang Sleman Erupsi Merapi