Yogyakarta tidak pernah kehabisan cerita tentang kekayaan budaya dan tradisi leluhurnya. Salah satu upacara adat yang paling unik, sarat makna, dan menyedot perhatian ribuan warga setiap tahunnya adalah Upacara Adat Saparan Bekakak, atau yang lebih dikenal secara singkat sebagai Upacara Bekakak.
Ritual unik yang diselenggarakan di Desa Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman ini bukan sekadar tontonan budaya biasa, melainkan wujud penghormatan, kesetiaan, dan permohonan keselamatan yang sudah mengakar sejak abad ke-18.
Sejarah Upacara Bekakak tidak dapat dipisahkan dari sosok Sri Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Kesultanan Yogyakarta. Pada tahun 1755, saat Istana Yogyakarta (Keraton) masih dalam proses pembangunan, Sri Sultan HB I beserta para pengikutnya bertempat tinggal sementara di Pesanggrahan Ambarketawang.
Di antara abdi dalem yang sangat setia adalah sepasang suami istri bernama Ki Wirasuta dan Nyai Wirasuta. Mereka bertugas menjaga pesanggrahan tersebut. Ketika Keraton Yogyakarta selesai dibangun dan Sri Sultan memutuskan untuk pindah, Ki Wirasuta dan istrinya memilih untuk tetap tinggal di Ambarketawang demi menjaga aset sang sultan.
Nahas, pada suatu hari di bulan Sapar (penanggalan Jawa), bencana melanda. Bukit Gamping yang berada di dekat pesanggrahan runtuh dan menimbun Ki Wirasuta beserta istrinya hingga wafat. Untuk mengenang kesetiaan mereka serta memohon keselamatan bagi warga sekitar dari ancaman runtuhnya bukit kapur tersebut, Sri Sultan HB I menitahkan sebuah upacara peringatan yang diadakan setiap bulan Sapar.
Makna di Balik Sepasang "Bekakak"
Kata Bekakak secara harfiah berarti korban sembelihan atau sajian berupa hewan atau manusia. Namun, jangan salah sangka—dalam upacara adat ini, tidak ada manusia atau hewan yang dikorbankan.
Sebagai gantinya, warga membuat sepasang boneka tiruan pengantin Jawa (representasi dari Ki Wirasuta dan Nyai Wirasuta) yang terbuat dari tepung ketan. Bagian dalam boneka ini diisi dengan gula merah cair (juruh).
Puncak dari upacara ini adalah prosesi penyembelihan leher boneka pengantin ketan tersebut. Ketika disembelih, cairan gula merah akan meleleh keluar, menyerupai darah. Ritual simbolis ini melambangkan pengorbanan jiwa dan raga Ki Wirasuta, sekaligus menjadi doa tolak bala agar masyarakat Gamping terhindar dari marabahaya.
Upacara Saparan Bekakak berlangsung sangat meriah dengan rangkaian prosesi yang panjang, maulai dari pembuatan Bekakak yang menggunakan bahan ketan putih, dibentuk sepasang pengantin lengkap dengan pakaian adat, lalu diletakkan di dalam sebuah jodang (kotak kayu besar).
Terdapat malam Tirakatan, sebelum hari H diadakan malam doa bersama dan kenduri di balai desa setempat.
lalu dilanjut Kirab Budaya pada siang hari puncak, sepasang Bekakak diarak dalam sebuah kirab budaya yang megah. Kirab ini diikuti oleh berbagai bergada, kelompok seni lokal, hingga ogoh-ogoh raksasa yang menyimbolkan roh jahat atau penguasa Bukit Gamping.
Penyembelihan dilakukan di Gunung Gamping sekaligus tanda kirab berakhir di tempat sakral. Di sanalah sepasang Bekakak ketan disembelih secara simbolis oleh sesepuh adat, lalu bagian tubuhnya dibagikan kepada warga yang hadir.
Hingga saat ini, Upacara Adat Saparan Bekakak tetap lestari dan menjadi salah satu warisan budaya takbenda yang sangat dijaga. Nilai-nilai luhur seperti kesetiaan, gotong royong, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa terkandung erat di dalamnya. Bagi Yogyakarta, Bekakak bukan hanya pengingat akan sejarah masa lalu, tetapi juga magnet wisata yang memperkaya identitas budaya Nusantara.