Jadi Simbol Kemakmuran, Pemerintah Kabupaten Sleman Gelar Jamasan Pusaka Tombak Kiai Turunsih
Delima Purnamasari• Senin, 13 Juli 2026 | 21:15 WIB
Prosesi Jamasan Pusaka Tombak Kiai Turunsih di Pendapa Parasamya Sleman Senin (13/7). (Dokumentasi Prokompim Sleman)
SLEMAN - Pemerintah Kabupaten Sleman kembali menggelar upacara adat jamasan pusaka Tombak Kiai Turunsih di Pendapa Parasamya Senin (13/7). Prosesi sakral ini bertujuan untuk membersihkan, menyucikan, dan merawat pusaka yang dilakukan oleh abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tujuannya secara fisik adalah untuk menghilangkan kotoran, kerak, dan debu. Sementara tujuan non-fisik adalah untuk membersihkan aura negatif. Jamasan ini terdiri dari acara wilujengan, selametan, hingga kenduri.
Jamasan pusaka Tombak Kiai Turunsih rutin diadakan tiap bulan Suro dalam kalender Jawa atau bulan Muharam dalam kalender Islam. Tombak tersebut merupakan pusaka resmi milik Pemkab Sleman yang diberikan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai petenger atau hadiah pada peringatan Hari Jadi ke-83 Kabupaten Sleman pada 15 Mei 1999 lalu.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyebut, upacara jamasan ritual ini merupakan bentuk pelestarian warisan budaya takbenda. Sekaligus upaya merawat benda pusaka yang memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Sleman. Pusaka Tombak Kiai Turunsih ini juga melambangkan berkah dan pengayoman bagi masyarakat Sleman.
“Harapannya semua selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan ketugasan dalam rangka menyejahterakan warga Sleman,” ucapnya di sela-sela acara.
Nama Turunsih sendiri memiliki arti turunnya rasa kasih sayang sehingga ini juga jadi simbol welas asih. Hal ini bisa dimaknai baik oleh pemimpin serta masyarakat agar memiliki jiwa mencintai sesama dan mengedepankan nilai kasih sayang. Dengan pamor beras wutah, pusaka ini jadi lambang kemakmuran Kabupaten Sleman sebagai lumbung beras DIY. "Nilai-nilai semacam ini yang harus senantiasa dijaga di Kabupaten Sleman," katanya. (del)