SLEMAN - Gedung kaca di Kompleks Kantor Bupati Sleman mulai kehilangan tampilannya. Atap kaca bermotif batik sinom parijotho salak berubah kecokelatan. Sementara biaya perawatan yang hampir setara dengan penggantian kaca baru menjadi kendala utama.
Bupati Sleman Harda Kiswaya mengakui, perawatan gedung kaca ini memang jadi tantangan tersendiri karena biayanya yang mahal. Bahkan, biaya perawatannya hampir sama dengan penggantian kaca baru karena perlu penanganan dan peralatan khusus.
"Memang ini baru jadi rasan-rasan saya, tapi memang pemeliharaan dan perawatannya berat," lontarnya ditemui Jumat (10/7).
Mantan Sekda Sleman ini mengaku, akan melakukan evaluasi terhadap perawatan bangunan ini. Dia memastikan tetap menghormati ide dan gagasan pembangunannya. Termasuk berupaya agar tidak ada bagian bangunan yang jadi mubazir.
"Belum tahu apakah akan diganti bahan yang lain, tapi yang jelas pembersihannya sulit. Untuk anggarannya masih kami upayakan," ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman Sukarmin. Desain gedung kaca adalah hasil dari sayembara lomba sehingga tidak bisa serta-merta dilakukan perubahan sebagai bentuk penghormatan atas kompetisi yang dilakukan.
Baca Juga: Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Longgar, Reklame Rokok Tak Berizin Bermunculan di Kulon Progo
"Memang kesulitannya tinggi untuk mewujudkan itu. Kemudian biayanya dan pemeliharaannya karena material kaca ini butuh pembersihan," ujarnya.
Sukarmin bercerita, dalam pemeliharaan gedung kaca biasanya akan mengundang atlet climbing untuk membantu membersihkan. Termasuk harus menyediakan peralatan khusus serta prosedur keselamatan kerja yang membuat anggaran jadi membengkak.
"Harusnya dibersihkan kurang lebih enam bulan sekali agar kacanya bisa mengkilap lagi," katanya.
Menurutnya, noda berwarna kecokelatan itu bukan serta-merta kotoran, tetapi kaca sandblast yang terbakar karena terpapar panas yang berlebihan. Paparan itu juga dipengaruhi oleh kurangnya sirkulasi udara di gedung. Bagian yang terbakar ini mesti diganti dengan kaca baru. Hanya saja usianya tetap terbatas sekitar satu hingga dua tahun saja dan setelah itu akan kembali kecokelatan lagi.
"Ganti kaca ini berarti akan ada batiknya dan material motif ini juga membuat biaya semakin lumayan," tambahnya.
Opsi lainnya adalah penggantian dengan semacam kaca film yang berwarna lebih gelap. Dia yakin, noda kecokelatan tidak akan muncul dan gedung akan lebih sejuk. Hanya saja tidak bisa mengakomodasi ciri khas gedung kaca sebelumnya yang bermotif batik sinom parijotho salak. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita