YOGYAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong tinggi.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat 131 kali guguran lava dan 33 kali di antaranya teramati secara visual mengarah ke Kali Sat/Putih, Kali Krasak, dan Kali Bebeng di sektor barat daya, sepanjang periode pengamatan 9 Juli 2026 pukul 00.00–24.00 WIB.
Berdasarkan laporan resmi MAGMA-VAR yang dipublikasikan melalui laman magma.esdm.go.id, guguran lava tersebut memiliki jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Selain guguran, alat pemantau kegempaan BPPTKG juga merekam 69 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2–41 mm, serta 2 kali gempa Tektonik Jauh.
Baca Juga: Diduga Korsleting Listrik Buat Genset Meledak, Picu Kebakaran Gudang Cengkih Kerugian Rp100 Juta
Gunung yang berada di ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut ini terletak di empat kabupaten sekaligus, yakni Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, yang mencakup wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Secara visual, gunung teramati jelas hingga tertutup kabut tipis pada Rabu kemarin, dengan kondisi cuaca berawan dan cerah berselang-seling.
Angin bertiup tenang ke arah barat, suhu udara berkisar 13,4–25°C, sementara kelembapan udara tercatat antara 37–96,7 persen.
Asap kawah dilaporkan nihil selama periode pengamatan.
Merapi saat ini masih berada pada Level III atau status Siaga.
BPPTKG menegaskan bahwa data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, yang berpotensi memicu awanpanas guguran di dalam daerah rawan bahaya.
Menurut penyusun laporan, Suratno dan Yulianto, potensi bahaya saat ini meliputi guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya, mencakup Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km.
Sementara itu, jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Menyikapi kondisi ini, BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam daerah potensi bahaya yang telah ditetapkan.
Warga di sekitar Merapi juga diminta mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak gunung.
Selain itu, masyarakat diimbau mengantisipasi gangguan abu vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu akibat aktivitas erupsi.
BPPTKG menyatakan akan terus memantau perkembangan aktivitas Merapi secara intensif.
Status aktivitas gunung ini akan segera ditinjau ulang apabila terjadi perubahan signifikan pada data kegempaan maupun visual.
Data dalam laporan ini bersumber dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, dan PVMBG, melalui BPPTKG. Informasi terkini seputar aktivitas Merapi dapat diakses masyarakat melalui kanal resmi PVMBG di media sosial serta laman magma.esdm.go.id. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin