JOGJA - Rencana revitalisasi lebih dari 190 candi perwara di Kompleks Candi Prambanan melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah India diperkirakan akan memunculkan penyesuaian pola kunjungan wisata.
Meski mengakui potensi terganggunya kenyamanan wisatawan pada tahap awal pengerjaan, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memastikan dampak tersebut dapat diminimalkan melalui pengaturan jalur kunjungan, manajemen kawasan, serta promosi destinasi wisata alternatif.
Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi menjelaskan, fokus revitalisasi yang akan didukung Pemerintah India tidak menyasar tiga candi utama Prambanan yang telah selesai dipugar.
Sebaliknya, proyek tersebut akan difokuskan pada ratusan candi perwara yang hingga kini belum berhasil direkonstruksi. Kendati demikian, Dispar DIY mengaku hingga kini belum memperoleh informasi mengenai jadwal pasti dimulainya pekerjaan.
"Untuk jadwal pelaksanaan fisik kami belum mendapatkan informasi. Kami masih menunggu arahan dari pemerintah pusat," ujarnya kepada wartawan, Rabu (8/7/2026).
Baca Juga: Mulai 15 Juli, Harga Telur Ayam dan Ayam Hidup Resmi Naik ke Rp 24.000 dan Rp 19.500
Menurut Imam, dari sekitar 200 candi perwara yang mengelilingi candi utama, Indonesia baru berhasil merevitalisasi enam bangunan. Artinya, kata dia, masih terdapat lebih dari 190 candi perwara yang menjadi pekerjaan konservasi ke depan. Pengerjaan fisik dalam skala besar tersebut diperkirakan akan membutuhkan waktu cukup panjang. Selama proses berlangsung, sejumlah area di dalam kompleks berpotensi ditutup demi mendukung pekerjaan konservasi.
Imam tidak menampik proyek konservasi berpotensi menimbulkan efek pembatasan akses di beberapa titik kawasan Candi Prambanan. Dengan demikian, pola kunjungan di Candi Prambanan pun akan disesuaikan kedepannya. Dispar DIY, kata Imam, melihat dampaknya dapat diminimalkan melalui pengaturan alur wisata.
“Ya, baik melalui penyediaan informasi serta promosi destinasi alternatif,” sambungnya.
Upaya tersebut meliputi pengaturan jalur kunjungan, pemasangan papan informasi yang jelas, peningkatan kualitas layanan wisata, hingga promosi destinasi lain di sekitar Prambanan. Destinasi alternatif yang akan diperkuat antara lain kawasan Ratu Boko, Candi Plaosan, serta sejumlah desa wisata di sekitar kompleks Prambanan.
"Kami memahami potensi tersebut. Karena itu diharapkan pengelola kawasan bersama instansi terkait mengatur tahapan pekerjaan agar tidak mengganggu pengalaman wisata secara signifikan," ujarnya.
Di sisi lain, Imam memandang proyek konservasi lintas negara tersebut sebagai momentum penting bagi penguatan pariwisata berbasis warisan budaya heritage tourism di Jogjakarta.
Menurutnya, pengalaman panjang Pemerintah India dalam konservasi cagar budaya menjadi nilai tambah, namun seluruh proses pemugaran tetap harus mengacu pada kaidah pelestarian cagar budaya nasional maupun standar UNESCO.
“Prinsip utama yang kami pegang adalah setiap upaya pemugaran harus berada dalam koridor kaidah pelestarian, mengikuti rekomendasi para ahli, serta mengacu pada ketentuan nasional dan standar UNESCO," tegasnya.
Ia menambahkan, manfaat proyek tersebut tidak hanya diukur dari peningkatan kunjungan wisata maupun pendapatan tiket masuk. Revitalisasi cagar budaya juga diyakini akan memberikan efek ganda berupa peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang konservasi, penguatan kerja sama internasional, pelestarian budaya, hingga keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar.
"Pelestarian Candi Prambanan bukan hanya menjaga bangunannya, tetapi juga menjaga nilai sejarah, budaya, dan daya tarik pariwisata untuk generasi mendatang," pungkasnya mengakhiri. (bas)
Editor : Bahana.