SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih menunjukkan intensitas tinggi sepanjang Selasa (17/6). Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), gunung berapi setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini masih bertahan pada Tingkat Aktivitas Level III atau Siaga.
Sepanjang periode pengamatan 17 Juni 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, kegempaan di Gunung Merapi didominasi oleh gempa guguran. BPPTKG mencatat total 120 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar antara 2-37 mm dan durasi 22,32 hingga 191,89 detik. Selain itu, terekam pula 54 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, 2 kali gempa Vulkanik Dangkal, dan 1 kali gempa Tektonik Jauh.
Baca Juga: Prediksi Skor Ghana vs Panama Piala Dunia 2026 Grup L Kamis 18 Juni
Visual dan Luncuran Material
Secara visual, kondisi puncak Gunung Merapi terpantau cerah dan berawan. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi mencapai 150 meter di atas puncak kawah.
Petugas pos pengamatan juga melaporkan adanya 28 kali guguran lava yang meluncur ke arah beberapa sungai, yaitu Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak. Material pijar tersebut tercatat meluncur dengan jarak maksimum mencapai 2.000 meter.
Kondisi meteorologi di sekitar gunung menunjukkan suhu udara berkisar 15.7-26.8 °C, kelembaban 58.7-95 %, serta tekanan udara 874.3-919.9 mmHg. Angin bertiup tenang ke arah barat dan utara.
Baca Juga: Musim Lalu Dipakai PSS Sleman dan PSBS Biak, Pengelola Gemburkan Kembali Tanah di MaglS
Potensi Bahaya & Rekomendasi BPPTKG
Dengan status Siaga Level III, BPPTKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi tegas bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten:
1. Potensi Bahaya Guguran dan Awan Panas: Masyarakat diminta waspada terhadap guguran lava dan awan panas guguran (APG).
· Sektor Selatan-Barat Daya: Meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km.
· Sektor Tenggara: Meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
· Lontaran Eksplosif: Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
2. Suplai Magma & Aktivitas: Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
3. Larangan Aktivitas: Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya yang telah ditentukan.
4. Waspada Lahar & Hujan: Masyarakat diimbau mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
5. Antisipasi Abu Vulkanik: Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi dengan menyiapkan masker dan pelindung mata.
Baca Juga: Andy Setyo Susul Deri Corfe, Hengkang dari PSIM Jogja ke PSIS Semarang
BPPTKG menegaskan bahwa jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. Masyarakat dapat memantau perkembangan terkini melalui aplikasi MAGMA Indonesia dan media sosial PVMBG (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin