Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mahasiswa Merangsek, Kericuhan Warnai Acara di GIK UGM; Diskusi Dihentikan, Tiga Pejabat Negara Dievakuasi

Fahmi Fahriza • Selasa, 16 Juni 2026 | 18:33 WIB
RICUH: Ratusan mahasiswa menggeruduk diskusi yang menghadirkan tiga pejabat negara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin malam (15/6). Peristiwa tersebut terjadi saat berlangsung forum diskusi yang dihadiri Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
MEMANAS: Ratusan mahasiswa menggeruduk diskusi yang menghadirkan tiga pejabat negara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin malam (15/6). Peristiwa tersebut terjadi saat berlangsung forum diskusi yang dihadiri Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

SLEMAN - Ratusan mahasiswa menggeruduk acara diskusi yang menghadirkan tiga pejabat negara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (15/6) malam.

Aksi ini sempat memanas hingga diskusi dihentikan dan diwarnai aksi saling dorong saat massa menghadang rombongan pejabat yang meninggalkan lokasi.

Forum ini menghadirkan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko.

Ketiganya menjadi sasaran kritik mahasiswa yang menilai pemerintah semakin menjauh dari kepentingan rakyat dan tidak memberikan ruang cukup terhadap kritik publik.

Baca Juga: Polresta Sleman Monitor Kericuhan di GIK UGM, Tak Ada Mahasiswa yang Diamankan 

Mulanya diskusi berjalan normal. Namun situasi berubah ketika sejumlah mahasiswa naik ke panggung dan membentangkan spanduk penolakan terhadap para narasumber. Ketegangan meningkat hingga diskusi terpaksa dihentikan.

Ketiga pejabat kemudian dievakuasi keluar lokasi acara. Ratusan mahasiswa yang berada di luar gedung sempat menghadang rombongan pejabat dan meminta dialog terbuka.

Nusron Wahid dan Sudaryono sempat berdiskusi dengan massa, namun pembicaraan tidak mencapai titik temu. Saat keduanya meninggalkan lokasi dengan pengawalan petugas, sempat terjadi aksi saling dorong.

Ketua Umum Serikat Mahasiswa UGM Bintang Mesa mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap sikap pemerintah yang dinilai antikritik dan tidak sensitif terhadap persoalan masyarakat. 

"Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka anggap kritik sebagai gangguan, selama masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat, program MBG, Kopdes Merah Putih, dan banyak hal yang terjadi sekarang-sekarang ini," katanya.

Baca Juga: Usai Aksi Gejayan Memanggil, Tiyo Ardianto Eks Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak Tertanam di Mobil

Secara keras Mesa juga mengkritik kondisi ekonomi nasional yang, menurutnya, semakin membebani masyarakat. Ia menilai pemerintah gagal memahami persoalan yang dihadapi rakyat di tingkat bawah. "Pajak makin mencekik, kondisi ekonomi makin memburuk. Semua hal yang terjadi di negeri itu sudah sampai ke meja makan kita, ke piring yang kita makan, nasi dan lauk-pauknya," ujarnya.

 Menanggapi gesekan yang sempat terjadi antara massa aksi dan aparat pengamanan, Mesa menilai hal itu merupakan konsekuensi dari tersumbatnya ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat.

"Gesekan yang terjadi itu memang hal yang wajar dalam negara demokrasi yang saat ini. Justru mereka tidak hanya bisa dibisiki, tapi memang harus diteriaki, memang harus didatangi, karena tidak ada cara yang efektif selain cara itu," tegasnya.

Ia menambahkan, gerakan mahasiswa akan terus dijaga sebagai bentuk kontrol terhadap kekuasaan. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab historis untuk mengingatkan pemerintah agar menjalankan amanat rakyat secara adil.

"Api-api pergerakan seperti ini harus dijaga. Apinya jangan terlalu besar karena kita belum waktunya memasak. Tapi jangan juga api ini padam, karena kita butuh api ini untuk menghangatkan diri dan memberi tahu pada rezim bahwa mereka harus menjalankan pemerintahan dengan sebaik-baiknya," katanya.

Baca Juga: Serukan Kritik ke Pemerintah, Ratusan Mahasiswa UII Long March dari Malioboro ke Titik Nol: Tuntut Harga BBM Turun, Hentikan MBG

Mesa juga menegaskan, mahasiswa tidak menolak kehadiran pejabat negara di kampus. Namun ia meminta setiap pejabat yang hadir dalam forum akademik menyampaikan data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Datanglah ke Universitas Gadjah Mada, tapi jangan menggunakan atau membawa data-data yang direkayasa, yang dipilih-pilih supaya terlihat positif. UGM dan Jogja adalah corong orang-orang intelektual yang tidak bisa dibohongi oleh hal-hal seperti itu," ujarnya.

Selain itu, Mesa turut menyatakan dukungan terhadap mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto yang belakangan dikabarkan mengalami dugaan pelacakan. Ia menegaskan, Sema UGM akan terus membersamai mahasiswa yang memperjuangkan kepentingan rakyat.

"Untuk Tiyo Ardianto dan kawan-kawan lain yang punya semangat yang sama, yang punya tujuan sama, dan yang melawan, kami Serikat Mahasiswa Gadjah Mada akan membersamai,"  tandasnya. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Mahasiswa demo #Menteri Agraria #universitas gadjah mada #menteri pertanian #nusron wahid