SLEMAN - Intensitas kemunculan titik api di rumah warga Margomulyo, Seyegan, bernama Mutfiana kini telah menurun signifikan.
Sejak kali pertama muncul pada Jumat (22/5) malam hingga Minggu (14/6) tercatat ada 127 kejadian.
Awalnya dalam satu hari bisa muncul delapan hingga 10 titik api, lalu kini hanya satu bahkan tidak ada api yang muncul.
"Jadi tanggal 10, 11, 12 itu hanya satu titik api. Kalau dari kemarin sudah aman," katanya, Minggu (14/6).
Dengan kondisi ini dia mengaku tengah mempertimbangkan untuk kembali tinggal di rumahnya dan tidak lagi menumpang di kios samping rumah.
Hanya saja rencananya akan tinggal di lantai dua yang diyakini lebih aman. Termasuk fokus meneruskan usaha pemotongan ayam yang terkendala dengan adanya peristiwa ini.
Mutfiana menilai, kondisi turunnya intensitas kemunculan api karena kandungan gas di dalam rumahnya sudah mulai menurun. "Kemarin dari Gegana masih ada gasnya.
Tapi enggak bilang jenisnya apa. Gegana belum berani menyimpulkan rumah ini aman," ucapnya.
Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) sendiri telah menyimpulkan kebakaran di rumah itu tidak disebabkan oleh gas alam.
Api justru berasosiasi dengan resin poly vinyl chloride (PVC) yang bisa didapatkan lewat berbagai jenis lem, cat, dan pelarut.
Mutfiana mengaku tidak paham yang dimaksud dengan resin PVC ini. "Serbuk itu dari mana tidak tahu. Aku tidak paham karena yang di lapangan sudah tahu kondisinya bagaimana," ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Jogja dan DPRD Kota Jogja Siap Fasilitasi Lampu Stadion Mandala Krida
Untuk saat ini dia masih menunggu kesimpulan dari tim peneliti yang lain. Dia bercerita sempat ingin mencoba memasang barang mudah terbakar di area dekat CCTV yang di pasang oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman.
Ini untuk memastikan potensi kebakaran di titik yang sering muncul apinya. Hanya saja tidak dibolehkan karena agar seluruh proses berjalan natural.
"Untuk CCTV yang dipasang tiga, jadi sudah tambah satu," ujarnya.
Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Bambang Kuntoro menyebut saat ini masih menunggu hasil penelitian dari berbagai pihak seperti UPNVY, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), hingga Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja.
Baru nantinya bisa mengambil kesimpulan dan tindak lanjut.
"Hari Sabtu kemarin juga ada tinjauan dari Denpas Gegana Mabes Polri ke lokasi dan untuk pantauan titik api nihil," ujarnya.
Dia turut mengonfirmasi intensitas api yang muncul saat ini sudah menurun. Penurunan utamanya terjadi usai dua CCTV dipasang di dalam rumah dengan seizin pemilik pada Senin (8/6), lalu satu CCTV lagi pada Jumat (12/6) malam. (del/laz)
Editor : Herpri Kartun