SLEMAN - Potensi pariwisata Kabupaten Sleman perlu terus digalakkan guna meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Terkait hal itu, Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sleman H. Wiratno SE MM mengusulkan pengembangan potensi wisata religi.
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa itu menilai, wisata religi -kerap disebut dengan istilah wisata ziarah- tidak pernah ada matinya.
Bahkan tak lekang termakan zaman meski saat ini banyak bermunculan destinasi wisata modern.
Menurut Wiratno, minat pelancong wisata religi sangat besar. Dari segala usia. "Lihat saja dari area parkirnya tiap hari. Ada yang sampai tidak muat menampung kendaraan peziarah," ungkapnya.
Misalnya di makam Hasan Tuqo, Godean; Wotgaleh, Berbah; Syech Jumadil Kubro di Turgo, Pakem; Plosokuning, Ngaglik; hingga Mlangi, Gamping.
Dan masih banyak lagi destinasi wisata religi lainnya. "Destinasi wisata religi itu masih sering hanya dipandang sebelah mata. Bahkan nggak digarap sama sekali (oleh pemerintah daerah, Red)," ungkapnya.
Padahal, lanjut Wiratno, potensi wisata religi sangat luar biasa. Belum lagi multiplier effect-nya. Dari pengelolaan parkir hingga kuliner dan produk usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Menurut Pak Wi, sapaan akrabnya, destinasi wisata religi selalu ramai pengunjung hampir tiap malam. Bahkan pada malam-malam tertentu bisa lebih padat.
Tak jarang parkir kendaraan sampai meluber ke bahu jalan menuju destinasi terkait. Misalnya pada malam 1 Suro/Muharram.
"Di setiap destinasi wisata religi selalu ada penjaja kuliner, oleh-oleh, dan cendera mata produk UMKM," jelas tokoh asal Purwomartani, Kalasan.
Pengasuh Pondok Pesantren Santi Aji itu optimistis, destinasi wisata religi jika digarap secara serius akan mendatangkan PAD yang besar. Imbasnya, masyarakat di sekitarnya ikut sejahtera.
"Dari retribusi parkir saja sudah pasti besar," ucapnya.
Wiratno berharap, pengembangan wisata religi masuk dalam Raperda Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Sleman 2026-2045.
Karena bukan hanya potensi ekonominya yang besar. Wisata religi juga memiliki sustainabilitas panjang.
Dalam pengelolaannya, Wiratno usul agar pemerintah bisa menggandeng pelaku usaha jasa pariwisata. Misalnya dengan memgemas paket wisata religi.
Dengan memanfaatkan keterkaitan spiritual antardestinasi. Contohnya Mlangi dan Hasan Tuqo yang ada kaitannya dengan kompleks makam penyebar Islam di Gunungpring, Muntilan, Magelang.
Paket wisata religi dan budaya juga potensial. Apalagi di Sleman sudah ada agenda tahunannya. Seperti tradisi apeman atau saparan Ki Ageng Wonolelo di Widodomartani, Ngemplak.
"Makam Ki Ageng Wonolelo itu juga banyak peziarahnya," ungkap Wiratno. (yog)
Editor : Herpri Kartun