SLEMAN - Berbagai upaya dilakukan untuk menangani rumah api di Seyegan. Salah satunya dari Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) yang melakukan penjenuhan lewat air kapur. Tindakan ini didasarkan pada asumsi api timbul karena gas hidrogen hasil fermentasi limbah organik dari usaha pemotongan ayam yang sudah berlangsung 16 tahun.
Proses penjenuhan ini sederhana. Sekitar satu gayung kapur dicampurkan dengan satu ember besar air. Lalu langsung dituangkan pada titik-titik yang telah ditentukan. Tanpa ada campuran bahan yang lain.
Baca Juga: Mohon Musibah Bisa Segera Selesai, Pemilik Rumah Api Seyegan Sleman Akan Gelar Doa Bersama
Anggota Tim Peneliti UGM Sarju Winardi menjelaskan, pemberian cairan basa dari air kapur berkonsentrasi tinggi ini adalah upaya untuk mematikan bakteri clostridium agar tidak bisa menghasilkan gas hidrogen. Penyiraman air dilakukan pada empat titik lubang pengeboran yang dilakukan. Tiga berada di dalam rumah dan satu di luar rumah.
Selain itu, pada ruangan yang keramiknya terbuka karena diduga sebagai jalan rembesan gas dan tempat pembuangan limbah. "Lubang bor ini kira-kira sedalam satu meter. Dibuat sebagai sarana memasukkan air kapur sekaligus untuk merilis gas yang masih ada di dalam pasir," katanya ditemui di sela-sela penanganan, Selasa (9/6).
Sarju menjelaskan, pemberian air basa ini harus dilakukan secara simultan setiap 24 jam. Agar nantinya pasir maupun tanah yang berada di bahwa rumah benar-benar jenuh. Pemilik rumah diminta untuk melakukan tindakan ini setidaknya konsisten selama seminggu ke depan.
Nantinya tim UGM juga akan melakukan monitoring akan hasil penjenuhan ini. Jika belum merata, maka akan dibuat lubang pemboran tambahan sebagai jalan memasukkan air kapur. Termasuk melakukan pengukuran kembali terkait kandungan gas hidrogen ini.
"Secara statistik keluarnya api relatif lebih sedikit. Dari sebelumnya 8 sampai 10 kali, sekarang sehari 3 sampai 4 kali. Semoga ini respons dari usaha kami," katanya.
Baca Juga: BRIN Ikut Selidiki Rumah Api Seyegan Sleman, Ragu jika Penyebabnya Gas Hasil Limbah Pemotongan Ayam
Menurut Sarju, tim UGM juga akan mendatangkan alat untuk mengukur kadar gas fosfin. Gas ini diduga berasosiasi dengan gas hidrogen yang menyebabkannya bisa terbakar pada suhu ruangan. Alat ini dia sebut sudah dipesan dari vendor, hanya saja belum datang.
"Dari tim UGM itu yang penasaran mengukur gas fosfinnya. Karena ini dari dugaan, jadi perlu dibuktikan. Tapi kalau hidrogennya memang sudah terukur oleh alat," katanya. (del/laz)
Editor : Herpri Kartun