SLEMAN - Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) terus melakukan penyelidikan pada rumah api di Seyegan. Tidak hanya fokus pada deteksi gas, tetapi juga menerjunkan alat geofisika bernama georadar atau disebut juga geoscanning.
Alat ini berfungsi untuk melihat kondisi di bawah permukaan tanah, seperti objek terpendam, lapisan, dan retakan-retakan.
Alat ini terdiri atas antena pemancar dan penerima, unit proses, dan roda penggerak. Dalam pengoperasiannya para peneliti mendorong alat ini perlahan di titik dalam rumah yang mengalami kebakaran.
Setiap beberapa sentimeter georadar ini akan mengirimkan sinyal kisaran 60 megahertz (MHz).
Baca Juga: BPBD Gandeng BRIN-UGM Teliti Longsor Clongop, Siapkan Langkah Mitigasi Permanen
Peneliti dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM Saptono Budi Samodra menjelaskan, lewat alat georadar ini ditemukan retakan persis di bawah rumah dengan kedalaman 15 hingga 20 meter.
Bahkan dimungkinkan retakan bisa terjadi lebih dari itu, tetapi alat yang dibawa ini memang maksimal mendeteksi pada kedalaman 20 meter.
Retakan dimungkinkan bisa menjadi jalan tempat keluarnya gas dari lapisan tanah menuju permukaan. Menurutnya, retakan semacam ini bisa timbul dari proses dinamika bumi karena berada di daerah zona aktif tektonik.
"Retakan itu cukup banyak di beberapa tempat. Ada di dekat pintu, di ruangan. Sinkron dengan data lokasi kebakaran," katanya ditemui di sela-sela melakukan pengambilan data lewat georadar, Senin (8/6).
Data ini memang masih perlu untuk dilakukan analisis lebih lanjut sekitar satu minggu ke depan untuk kepastiannya. Termasuk untuk melihat kerapatan retakannya.
Hanya saja, Saptono menilai gas memang memungkinkan keluar dari retakan ini karena memang jenis zatnya yang tidak membutuhkan ruang yang besar.
Nantinya Tim Peneliti UGM juga akan menerjunkan alat geolistrik seperti yang dilakukan oleh tim peneliti UPN Veteran Yogyakarta (UPNVY). Hanya saja pada area bekas rawa, deteksinya akan fokus di area sekitar rumah.
"Geolistrik ini sama untuk melihat di bawah permukaan menggunakan resistivitas batuan, sehingga bisa melihat jenisnya apa," tambahnya.
Seluruh temuan ini nantinya akan diintegrasikan dengan berbagai data lain untuk benar-benar bisa menemukan masalah utamanya, yakni penyebab sumber apinya. Apakah itu nanti disebabkan oleh gas alam atau gas dampak limbah.
Khawatirnya masyarakat akan terburu-buru menyimpulkan bahwa usaha pemotongan ayam pasti menyebabkan gas yang menimbulkan titik api. "Artinya kami mencoba melihat secara ilmiah penyebabnya untuk menghindari keresahan masyarakat," ujarnya.
Pendekatan geologi lain yang akan coba dilakukan nantinya adalah melakukan pengeboran ke tanah bawah rumah. Tujuannya juga untuk melihat jenis lapisan-lapisan tanah di dalamnya. Hal ini untuk melihat apakah nantinya ada lapisan lempung hitam yang dimungkinkan bisa menjadi sumber gas metana. (del/laz)
Editor : Herpri Kartun