SLEMAN - Proses penelusuran penyebab kebakaran misterius di rumah milik Agus Yani, warga Seyegan, Sleman terus dilakukan. Salah satunya dengan mengeruk tanah rawa yang tak jauh dari lokasi rumah Rabu (3/6).
Penerjunan alat berat oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) ini dilakukan untuk menghilangkan area yang diduga jadi lokasi akumulasi gas. “Harapannya, gas yang dilepaskan ke lingkungan bisa berkurang atau berhenti,” beber Penyelidik Bumi Muda BPPTKG Aris Dwi Nugroho kepada awak media Rabu (3/6).
Baca Juga: Tak Diperpanjang PSIM Jogja, Jebolan Akademi Manchester City Merapat ke PSIS Semarang
Sampai saat ini, lanjutnya, penyebab pasti munculnya titik api masih dalam penyelidikan. Sebab temuan dari peneliti UPN Veteran Yogyakarta mendapatkan fenomena gelembung gas yang terletak di bawah jembatan. Asumsinya itu adalah bekas rawa yang menimbulkan gas metana.
"Hari Senin kami datang, ternyata metananya tidak signifikan untuk pembakaran. Jadi kami abaikan, tetapi ternyata terbakar lagi," katanya.
Baca Juga: Lurah Condongcatur Reno Candra Sangaji Terjerat Kasus TKD, HB X: Selesaikan di Pengadilan!
Sementara peneliti dari UGM, sempat mendeteksi adanya gas hidrogen. Meski hasil temuan berbeda, Aris menilai, gas yang jadi penyebab memang antara metana atau hidrogen. Untuk itu pihaknya akan membawa sampel untuk bisa dibawa ke laboratorium dalam rangka menentukan besaran kadarnya. Agar nanti seluruh kepingan temuan ini disatukan dan diambil kesimpulan yang tetap.
Prosesnya diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk hasil laboratoriumnya. "Intinya kami masih melakukan pengambilan data dulu. Dengan data yang ada ini nanti kami akan mendapatkan kesimpulan," tambahnya.
Baca Juga: Komisi IV DPR RI Soroti Distorsi Informasi Swasembada Pangan, Lihat Data dan Fakta
Kebakaran yang terus terjadi secara geologi, lanjutnya, memang memungkinkan. Aris mengaku sempat meninjau di selatan jembatan dan ditemukan kekar atau rekahan yang mengarah ke rumah. Sesuai dengan sifatnya, maka gas akan mencari celah yang paling mudah untuk bisa keluar.
Terpisah, Bupati Sleman Harda Kiswaya menjelaskan, upaya prioritas saat ini memang mencari aliran gas di tempat yang dimungkinkan. Termasuk di area rawa yang juga dipenuhi rumpun bambu. Proses penggalian ini perlu dilakukan hati-hati karena dikhawatirkan gas justru keluar tidak terkendali.
"Jadi akan diteliti seberapa besar. Kalau potensinya besar bisa disalurkan untuk masyarakat lewat pipa," katanya.
Dia sebut sementara penghuni rumah bisa tinggal di lantai dua karena dinilai lebih aman. Sebab sampai saat ini, sudah ada 87 titik api yang muncul. Terbaru, lima titik api baru muncul kemarin (3/6). Nerada di rak ruang tengah, lorong tengah pada sandal, ruang tengah pada lemari dua kali kejadian, dan buku di kamar tengah. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita