Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Relawan Damkar Akui Bingung Hadapi Fenomena  Api Misterius di Seyegan Sleman, Septic Tank hingga Gas Rawa Diduga Jadi Penyebab 

Fahmi Fahriza • Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:59 WIB
SULIT DIPREDIKSI: Rumah keluarga Agus Yani setelah sekitar seminggu terakhir terus bermunculan api yang membakar berbagai barang dan perabot rumah tangga. Fahmi Fahriza/Radar Jogja
SULIT DIPREDIKSI: Rumah keluarga Agus Yani setelah sekitar seminggu terakhir terus bermunculan api yang membakar berbagai barang dan perabot rumah tangga. Fahmi Fahriza/Radar Jogja

 

SLEMAN - Misteri kemunculan api berulang di rumah milik Agus Yani, warga Padukuhan Kasulan, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, masih belum terpecahkan.  

Setelah sepekan terakhir dihantui kemunculan api yang muncul secara acak di berbagai sudut rumah, sejumlah peneliti dan relawan pemadam kebakaran terus melakukan pengamatan untuk mengungkap penyebabnya.

Ketua Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) Kabupaten Sleman Hermas Risriyanto mengatakan, hingga Sabtu (30/5) titik api telah muncul selama puluhan kali dengan lokasi dan waktu yang sulit diprediksi. "Jumlah titik api lebih dari 40-an. 

Titiknya tidak beraturan dan waktunya juga sulit diprediksi," ungkapnya saat ditemui di lokasi, Sabtu (30/5).

Menurutnya, sebagian besar benda yang terbakar merupakan benda-benda perabot rumah tangga, terutama material yang mudah terbakar. 

"Yang paling sering terbakar itu barang-barang tipis dan mudah terbakar seperti kain, plastik, busa, dan bungkus kabel," ujarnya.

Hermas menjelaskan, pihaknya telah mendampingi penanganan kejadian itu sejak hari pertama kemunculan api pada Sabtu (23/5) lalu. Meski tidak selalu berada di lokasi, relawan pemadam kebakaran bersama warga setempat terus bergantian berjaga selama 24 jam.

 "Saya tidak selalu di lokasi karena harus siaga di pos, tetapi anggota Redkar selalu ada yang standby bersama warga," ujarnya.

Pada Sabtu (30/5) pagi, lokasi kejadian kembali didatangi sejumlah pihak untuk melakukan penelitian lanjutan.

 Tim dari Fakultas Teknik UGM, Fakultas Geologi UPN Veteran Yogyakarta (UPNVY), Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP ESDM) DIJ, hingga Gegana Polda DIJ turun langsung melakukan pengecekan.

Dari hasil pemeriksaan awal, setidaknya muncul dua hipotesis dan dugaan sumber gas metana yang berbeda.

 Menurut Hermas, Gegana bersama UGM menemukan indikasi adanya gas metana yang berasal dari septic tank dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di lingkungan rumah korban.

"Versi Gegana dan UGM, sumber gas metana terindikasi berasal dari septic tank dan IPAL. Tetapi masih perlu penelitian lanjutan untuk mengetahui konsentrasinya," jelasnya.

Sementara itu, tim Fakultas Geologi UPNVY menemukan indikasi lain. Berdasarkan hasil pengamatan awal, sumber gas metana diduga berasal dari area sekitar 100 meter di sebelah timur rumah korban.

Lokasi itu merupakan kawasan jembatan yang dialiri air di bawahnya. Di dalam air tersebut, terindikasi adanya gas rawa yang bisa memicu api.

"Dari UPN justru terindikasi ada gas rawa sekitar 100 meter dari rumah. Dugaan sementara gas itu bisa sampai ke sini karena ada retakan tanah yang mengarah ke rumah," katanya.

Atas dasar temuan sementara itu, para peneliti merekomendasikan agar rumah dikosongkan sementara selama sekitar satu bulan untuk memudahkan proses observasi lebih lanjut.

"Dari beberapa pihak itu menyarankan rumah dikosongkan sekitar satu bulan. Selama periode itu tidak boleh ada aktivitas di dalam rumah," ujarnya.

Meski rumah direkomendasikan untuk dikosongkan, relawan pemadam kebakaran tetap akan melakukan pemantauan secara berkala. Sejumlah alat pemadam api ringan (APAR) juga disiagakan di lokasi untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.

 "Kami akan tetap standby bergantian sampai nanti ada informasi yang lebih jelas dan lokasi dinyatakan aman," ulasnya.

Hermas menambahkan, salah satu hal yang membuat fenomena ini sulit dijelaskan adalah tidak adanya tanda-tanda sebelum api muncul. Tidak tercium bau gas maupun gejala lain yang dapat dijadikan peringatan awal.

 "Sama sekali tidak ada tanda-tanda. Tahu-tahu muncul api begitu saja," ungkapnya.

Akibat kejadian ini, keluarga Agus tidak hanya mengalami kerugian material akibat sejumlah barang yang terbakar, tetapi juga harus menghadapi tekanan psikologis karena selama sepekan terakhir mereka nyaris tidak dapat istirahat dengan tenang.

"Secara psikis dan fisik keluarga sangat lelah. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya harus berjaga terus setiap malam," ujar Hermas.

Secara pribadi ia mengaku fenomena ini merupakan pengalaman pertama yang ditemuinya selama terlibat dalam penanganan kebakaran. "Jujur, ini baru kali pertama saya menangani kejadian seperti ini dan memang bikin bingung,"  tandasnya. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Kebakaran #septic tank #gas