SLEMAN - Misteri kemunculan api berulang di rumah milik Agus Yani, warga Padukuhan Kasulan, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, masih belum terpecahkan.
Setelah sepekan terakhir dihantui api yang muncul secara acak di berbagai sudut rumah, sejumlah peneliti dan relawan pemadam kebakaran terus melakukan pengamatan untuk mengungkap penyebabnya.
Ketua Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) Kabupaten Sleman Hermas Risriyanto mengatakan, hingga Sabtu (30/5/2026), titik api telah muncul selama puluhan kali dengan lokasi dan waktu yang sulit diprediksi.
"Jumlah titik api lebih dari 40-an. Titiknya tidak beraturan dan waktunya juga sulit diprediksi," kata Hermas saat ditemui di lokasi, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, sebagian besar benda yang terbakar merupakan benda-benda perabot rumah tangga, terutama material yang mudah terbakar.
"Yang paling sering terbakar itu barang-barang tipis dan mudah terbakar, seperti kain, plastik, busa, dan bungkus kabel," ujarnya.
Hermas menjelaskan, pihaknya telah mendampingi penanganan kejadian tersebut sejak hari pertama kemunculan api pada Sabtu (23/5) lalu.
Meski tidak selalu berada di lokasi, relawan pemadam kebakaran bersama warga setempat terus bergantian berjaga selama 24 jam.
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Salurkan Hewan Kurban Iduladha 1447H
"Kami sudah dampingi sejak hari pertama kejadian. Saya tidak selalu di lokasi karena harus siaga di pos, tetapi anggota Redkar selalu ada yang standby bersama warga," ujarnya.
Pada Sabtu (30/5/2026) pagi, lokasi kejadian kembali didatangi sejumlah pihak untuk melakukan penelitian lanjutan.
Tim dari Fakultas Teknik UGM, Fakultas Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP ESDM) DIY, hingga Gegana Polda DIY turun langsung melakukan pengecekan.
Dari hasil pemeriksaan awal, setidaknya muncul dua hipotesis dan dugaan sumber gas metana yang berbeda.
Menurut Hermas, tim Gegana bersama UGM menemukan indikasi adanya gas metana yang berasal dari septic tank dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang berada di lingkungan rumah korban.
"Versi Gegana dan UGM, sumber gas metana terindikasi berasal dari septic tank dan IPAL. Tetapi masih perlu penelitian lanjutan untuk mengetahui konsentrasinya," jelasnya.
Sementara itu, tim Fakultas Geologi UPN Veteran Yogyakarta menemukan indikasi lain.
Berdasarkan hasil pengamatan awal, sumber gas metana diduga berasal dari area sekitar 100 meter di sebelah timur rumah korban.
Baca Juga: Kabar Baik bagi Arsenal Jelang Final Liga Champions Melawan PSG, Jurrien Timber Siap Tampil
Lokasi tersebut merupakan kawasan jembatan, yang dialiri air di bawahnya.
Di dalam air tersebut, terindikasi adanya gas rawa yang bisa memicu api.
"Dari UPN justru terindikasi ada gas rawa sekitar 100 meter dari rumah. Dugaan sementara gas itu bisa sampai ke sini karena ada retakan tanah yang mengarah ke rumah," katanya.
Atas dasar temuan sementara tersebut, para peneliti merekomendasikan agar rumah dikosongkan sementara selama sekitar satu bulan untuk memudahkan proses observasi lebih lanjut.
"Dari beberapa pihak itu menyarankan rumah dikosongkan sekitar satu bulan. Selama periode itu tidak boleh ada aktivitas di dalam rumah," ujarnya.
Baca Juga: Wujudkan Mimpi Masa Kecil untuk Gabung Barcelona, Anthony Gordon: Mimpi Yang Menjadi Kenyataan
Meski rumah direkomendasikan untuk dikosongkan, relawan pemadam kebakaran tetap akan melakukan pemantauan secara berkala.
Sejumlah alat pemadam api ringan (APAR) juga disiagakan di lokasi untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.
"Kami akan tetap standby bergantian sampai nanti ada informasi yang lebih jelas dan lokasi dinyatakan aman," ulasnya.
Hermas menambahkan, salah satu hal yang membuat fenomena ini sulit dijelaskan adalah tidak adanya tanda-tanda sebelum api muncul.
Tidak tercium bau gas maupun gejala lain yang dapat dijadikan peringatan awal.
Baca Juga: Menuju Musim Baru, Pelatih PSIM Jogja Van Gastel Mulai Didekati Agen Pemain
"Sama sekali tidak ada tanda-tanda. Tahu-tahu muncul api begitu saja," ungkapnya.
Akibat kejadian tersebut, keluarga Agus sendiri tidak hanya mengalami kerugian material akibat sejumlah barang yang terbakar, tetapi juga harus menghadapi tekanan psikologis karena selama sepekan terakhir mereka nyaris tidak dapat beristirahat dengan tenang.
"Secara psikis dan fisik keluarga sangat lelah. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya harus berjaga terus setiap malam," ujar Hermas.
Secara pribadi, ia mengaku fenomena tersebut merupakan pengalaman pertama yang ditemuinya selama terlibat dalam penanganan kebakaran.
"Jujur, ini baru pertama kali saya menangani kejadian seperti ini dan memang bikin bingung," pungkasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva