SLEMAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman membentuk petugas pendamping pengelolaan sampah di 17 kapanewon untuk menekan timbulan sampah. Ini dilakukan sembari menunggu operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Piyungan yang ditargetkan pada 2027 mundur hingga 2028.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman Sugeng Riyanta mengatakan, pihaknya membuat petugas pendamping pengelolaan sampah di 17 kapanewon selama masa transisi menunggu proyek tersebut.
Tugas mereka adalah melakukan fasilitasi, edukasi, dan pendampingan dalam rangka meningkatkan peran warga dalam pengelolaan sampah.
Baca Juga: Jaga Inflasi dan Stabilisasi Harga, 108 Ribu Warga Purworejo Terima Bantuan CPP
"Harapannya dalam masa transisi bisa mengurangi timbulan sampah selesai di sumbernya," katanya, Kamis (28/5/2026).
Timbulan sampah di Bumi Sembada sendiri mencapai 600 ton dalam sehari. Sekitar 56 persennya adalah sampah organik, lalu kedua yang mendominasi adalah sampah plastik. Penanganan sampah saat ini disebut memang masih terfokus pada tiga tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) yang sudah beroperasi.
Mulai dari TPST Sendangsari, TPST Tamanmartani, dan TPST Donokerto. Termasuk mengoptimalkan tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R) dan transfer depo yang ada.
"Memang untuk PSEL masih cukup lama, tapi kami juga masifkan edukasi dan sosialisasi pada masyarakat," ujarnya.
Baca Juga: Jaga Wajah Kota Jogja Selalu Bersih, Hasto Wardoyo Evaluasi Petugas Penyapu Jalan
Untuk proyek PSEL dia sebut terus dilakukan koordinasi intensif dengan pemerintah provinsi maupun Kabupaten Bantul dan Kota Jogja sebagai penerima manfaat. Bumi Sembada sendiri direncanakan mendapat alokasi 450 ton sampah untuk disetor tiap harinya.
"Memang posisi DIY untuk PSEL awalnya masuk batch pertama, tapi sekarang mundur jadi masuk batch kedua. Juni baru proses lelang," tambahnya. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita