Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

DJI Minta Posisi Jamu Tak Disalahartikan, Bisa Jadi Pendamping Obat dengan Aturan Tertentu

Guntur Aga Tirtana • Senin, 25 Mei 2026 | 20:30 WIB
MOMENTUM: Peserta minum jamu secara serentak saat mengikuti peringatan Hari Jamu Nasional di di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM Senin (25/5). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
MOMENTUM: Peserta minum jamu secara serentak saat mengikuti peringatan Hari Jamu Nasional di di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM Senin (25/5). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

SLEMAN - Peringatan Hari Jamu Nasional 2026 digelar sebagai gerakan minum jamu serentak bagi masyarakat DIY Senin (25/5). Kegiatan tersebut diikuti peserta secara luring di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM maupun daring oleh mahasiswa, warga desa binaan hingga masyarakat di rumah sakit.

Ketua Dewan Jamu Indonesia (DJI) DIY Nyoman Kertia mengingatkan, agar posisi jamu tidak disalahartikan. Menurutnya, jamu lebih ditekankan untuk menjaga kebugaran masyarakat. Meski demikian, dalam bentuk fitofarmaka, jamu dapat digunakan sebagai pendamping obat standar dengan aturan tertentu. “Jadi tidak bisa sembarangan diresepkan dokter, ada aturannya,” ungkapnya.

Baca Juga: Gegara Harga Kedelai hingga Migor Naik, Ukuran Tahu Bulat dari Magelang Mengecil 

Dia juga menyoroti generasi muda yang dinilai terlalu terpapar budaya Barat sehingga berdampak pada pola hidup tidak sehat. Kondisi tersebut disebut memicu berbagai penyakit seperti diabetes, asam urat, kolesterol, hingga penyakit jantung.

Selain itu, Nyoman menilai pendidikan dokter dan tenaga farmasi masih terlalu berorientasi pada ilmu kedokteran Barat sehingga minim pemahaman mengenai jamu. “Tidak paham soal jamu,” tegasnya. 

Karena itu, dia mendorong adanya sinergi antara dunia medis modern dengan herbal tradisional. Menurutnya, jika ditata dengan baik, dokter, apoteker, dan tenaga kesehatan lain dapat menerima penggunaan jamu sesuai porsinya.

Baca Juga: Guna Pastikan Keberhasilan Program Pemkot Jogja, DPRD Kota Jogja Segera Lakukan Cek Fakta 

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama (PPUKS) UGM Danang Sri Hadmoko mengenang pengalaman pertama minum jamu saat masih kecil. Kala itu dirinya mengaku dicekoki jamu kerkop karena susah makan. “Itu pengalaman pertama saya minum jamu,” ujarnya saat memberikan sambutan. 

Danang mengatakan, UGM memiliki kekuatan besar untuk mengembangkan penelitian jamu melalui berbagai fakultas dan pusat studi. Salah satunya di Fakultas Farmasi yang telah memiliki kafe jamu.

 

Selain itu, para peneliti di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) juga aktif melakukan riset terkait jamu. Bahkan, Fakultas Ilmu Budaya turut berperan dalam mengkaji jamu dari sisi budaya Indonesia.

 

“Teman-teman di Fakultas Ilmu Budaya juga punya peran besar melihat jamu dalam konteks budaya Indonesia,” jelasnya. (aga/eno)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#minum jamu #Grha Sabha Pramana (GSP) UGM #obat #UGM #hari jamu nasional