SLEMAN - Produksi salak pondoh di Kabupaten Sleman terus menurun di tengah anjloknya harga jual akibat masifnya penjualan bibit. Untuk mengejar kebutuhan pasar ekspor internasional, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman kini mengandalkan strategi peremajaan tanaman lewat metode cangkok induk agar pohon lebih cepat berbuah dan produksi meningkat.
Plt Kepala DP3 Kabupaten Sleman Rofiq Andriyanto mengatakan, peremajaan salak pondoh yang sudah tua bertujuan untuk mempercepat pemulihan angka produksi.
Lantaran jika menggunakan bibit untuk penanaman, setidaknya butuh tiga tahun untuk berbuah. Sementara lewat cangkok induk cukup sekitar satu tahun saja.
"Cangkok induk ini batangnya dipotong dan direndahkan lalu dicangkok. Peremajaan ini sudah berjalan tiga tahun ke belakang," katanya dikonfirmasi, Kamis (7/5/2026).
Dia menjelaskan, luas panen pada 2025 lalu sebesar 1.289 hektare dengan produksi 4.126 ton. Tingkat produktivitasnya 320 kwintal untuk tiap hektare. Diharapkan, angka produksi salak pondoh bisa meningkat.
Kalau pun tiba saatnya masa panen dan harga turun, dengan jumlah volume produksi yang lebih besar, tetap bisa mengimbangi harga modal para petani.
Sebab kondisi saat ini volume produksi masih rendah, tetapi harga juga ikut rendah. Rofiq bercerita tak jarang petani membiarkan salaknya di pohon saat musim panen tiba karena anjloknya harga ini.
"Ini harapan kami. Pohon salak yang tua diremajakan dan produksi meningkat agar bisa mencukupi saat harga rendah," ujarnya.
Baca Juga: PSIM Jogja Sudah Aman dari Degradasi, Van Gastel Tetap Genjot Intensitas dan Filosofi Bermain Timnya
Targetnya nanti salak yang dipanen di Bumi Sembada bisa memenuhi kebutuhan ekspor. Dalam satu kali kirim rata-rata baru mencapai 800 kilogram hingga dua ton. Sementara kebutuhan satu kontainer butuh sekitar empat ton sehingga harus mengambil salak pondoh dari wilayah lain.
"Kalau hanya sedikit yang dikirim memang rugi. Untuk tujuannya ke Vietnam, China, Hongkong, sampai New Zealand," tambahnya.
Hal senada disampaikan Ketua Paguyuban Petani Salak Mitra Turindo, Suroto. Pada puncak ekspor dalam sebulan bisa melakukan pengiriman 80 hingga 90 ton.
Baca Juga: Derby DIY PSIM Kontra PSS Akan Kembali di Kasta Tertinggi, Pengamat Ingatkan Potensi High-Risk Match
Sayangnya, salak dari paguyuban dengan anggota sekitar 400 petani ini belum memadai. Terkadang satu bulan hanya mencukupi 50 persennya, bahkan pernah 25 persen.
"Untuk kebutuhan sisanya kami ambil dari Magelang dan Wonosobo," katanya. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita