SLEMAN - Puluhan orang di Getas Toragan, Tlogoadi, Mlati, Sleman jadi korban keracunan massal pada Senin (4/5). Mereka mengalami gejala serupa berupa pusing, diare berkali-kali, perut panas, muntah, hingga badan merasa panas dingin.
Peristiwa ini terjadi usai mereka mengonsumsi makanan dari acara pamitan haji Supardal beserta istrinya yang merupakan warga setempat. Acara diselenggarakan pada Minggu (3/5) lalu sekitar pukul 08.00 di sebuah gedung dakwah di Mlati.
Untuk sementara dibuka posko kesehatan darurat pada pagi tadi di rumah dukuh toragan. Sejumlah warga terlihat berdatangan untuk memeriksakan diri dan mendapatkan obat dari petugas kesehatan.
Baca Juga: Prediksi Chelsea vs Nottingham Forest Premier League Senin 4 Mei 2026, Tekad The Blues Bersaing Raih Tiket Liga Champions
Berdasarkan data sementara dari petugas posko ada 35 orang terdampak. Sebanyak 26 orang yang datang ke posko. Lalu ada sembilan orang melakukan pemeriksaan mandiri, tujuh orang ke puskesmas dan dua orang ke RSA UGM. Sampai saat ini warga masih terus berdatangan di posko darurat.
Putra Supardal, Nayuku Bramantyo menjelaskan, keluarganya memesan makanan 250 porsi dan dapat bonus enam kotak dari sebuah katering di Yogyakarta.
Menunya berupa ayam panggang kecap, krecek dan rempela hati, lalapan, serta pisang dengan harga satu boks Rp 30 ribu. Dia mengaku baru pertama kali memesan di tempat ini.
"Kami juga korban dan menyesal pesan di situ. Dari waktu saja tidak on time, kami minta jam setengah enam baru datang setengah tujuh. Bentuk kardusnya juga peyot," kata pria yang akrab disapa Yoko ini saat ditemui di posko kesehatan darurat, Senin (4/5).
Dia mengaku, memang ada keanehan rasa pesanan makanan khususnya pada krecek yang terasa kecut. Hanya saja tidak ada bau yang menyengat.
Dia sendiri dua kali mengonsumsi nasi kotak ini dan baru merasakan gejala diare dan badan panas pada pukul sebelas malam begitu juga dengan adik dan ayahnya. Orang tuanya sendiri masuk kloter 26 dan rencana akan berangkat haji pada Rabu (20/5) mendatang.
Dari acara pamitan haji ini, Yoko bercerita jika ada sekitar 130 orang yang hadir. Terdiri dari tetangga, ustaz, dan keluarga. Sementara makanan lainnya turut dibagikan pada warga sekitar.
"Kami belum komunikasi dengan katering karena katanya yang komunikasi dari puskesmas dan kepolisian," ujarnya.
Atas kejadian ini dia meminta pihak katering untuk bertanggung jawab karena sudah banyak yang jadi korban.
Dia juga akan menuntut denda atas kerugian kesehatan yang terjadi. Yoko menegaskan, keluarganya adalah orang baik dan tidak pernah melakukan keburukan.
"Kami minta penjara sepuluh tahun dan denda juga atas kerugian ini. Kami juga korban bukan pelaku," tegasnya.
Baca Juga: Tatap Final Pegadaian Championship Lawan Garudayaksa, PSS Sleman Fokus Recovery Ditengah Euforia Promosi
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati menjelaskan, untuk sementara seluruh warga terdampak menjalani rawat jalan. Saat ini masih terus dilakukan pendataan oleh petugas di lokasi. (del)
Editor : Bahana.