SLEMAN - Kontur tanah yang labil di kawasan tebing wilayah Kapanewon Prambanan masih menjadi perlu kewaspadaan sebagai ancaman bencana. Khususnya tanah longsor.
Hujan deras seringkali mengakibatkan akses jalan penduduk terputus karena tertutup longsoran tanah.
Pun demikian pohon tumbang yang menimpa rumah warga.
Potensi bencana tersebut setidaknya mengancam warga di Kalurahan Sambirejo, Wukirharjo, Gayamharjo, dan sebagian Sumberharjo.
Kondisi geografis keempat wilayah tersebut didominasi perbukitan dengan tebing terjal.
Baca Juga: Skenario PSS dan Persaingan Panas Papan Atas Grup Timur, Ansyari Lubis Tak Ingin Bergantung Tim Lain
Mitigasi dan antisipasi bencana telah dilakukan. Namun, upaya itu dinilai belum maksimal lantaran keterbatasan anggaran daerah.
Meskipun ancaman bencana tersebut hanya saat musim hujan. Tapi kontur tanah yang labil setiap saat menjadi ancaman.
Apalagi Prambanan masuk kawasan sesar Opak, yang menyebabkan adanya ancaman serius ketika terjadi gempa bumi.
Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Sleman Hery Setiyawan ST mengungkapkan, perbaikan saluran air hujan menjadi langkah paling krusial dalam upaya antisipasi bencana tanah longsor.
Agar air hujan bisa mengalir lebih lancar. Tidak meresap langsung ke tanah, yang bisa berakibat longsor.
"Kalau tak ada saluran itu air hujan akan menggerojok. Ini berbahaya," ungkapnya.
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa itu mengatakan, potensi bahaya tanah longsor diperparah kondisi jalan yang buruk.
Banyak lubang dan bergelombang. Sehingga akan menghambat proses evakuasi warga.
Hery mengakui bahwa biaya perbaikan jalan cukup besar. Sehingga masih banyak jalan rusak yang belum tertangani.
Masalah anggaran itu juga dipicu status jalan. Sebagian besar jalan rusak masuk kategori jalan lingkungan/permukiman dan jalan kalurahan.
Menurut Hery, anggaran belanja kalurahan tidak mampu untuk menangani masalah itu. Apalagi dana desa sedang banyak pemotongan saat ini.
Hery mendorong untuk alih status menjadi jalan kabupaten. Atau setidaknya supaya perbaikan jalan bisa diambil alih pemerintah kabupaten menggunakan anggaran daerah.
Di sisi lain, sumbangsih dewan dalam kegiatan itu hanya bisa melalui bantuan keuangan khusus (BKK) atau program pokok pikiran (pokir) yang nilainya juga terbatas.
Itu pun hanya bisa untuk perbaikan drainase atau talud. "Makanya ini harus segera ada solusinya," tegas tokoh asal Sumberharjo, Prambanan.
Tingkat urgensi antisipasi bencana sangat tinggi. Mengingat wilayah perbukitan Prambanan sarat destinasi wisata dengan tingkat kunjungan cukup besar.
Bahkan lebih dari itu, kawasan Prambanan juga banyak benda cagar budaya yang dilindungi negara. Berupa candi-candi, stupa, dan sejenisnya.
Secara khusus, Hery menaruh perhatian pula perbaikan akses jalan menuju SMP 2 Prambanan. Perbaikan paling bagus kualitasnya dengan cor beton.
Bukan aspal. Supaya lebih awet dan tidak mudah longsor. (yog)
Editor : Herpri Kartun