SLEMAN - Upaya pengembangan lahan perkebunan kopi di Kabupaten Sleman terus diupayakan. Budi daya yang dilakukan di lereng Merapi ini jadi upaya konservasi sekaligus daya tarik pariwisata. Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman memperkirakan potensi perkebunan kopi di Bumi Sembada bisa mencapai 2.000 hektare (ha).
Plt Kepala DP3 Sleman Rofiq Andriyanto menjelaskan, sebenarnya pengembangan sudah pernah mencapai angka 1.150 hektare. Namun, anjlok karena terdampak erupsi 2010 sehingga lahan yang masih ada kini sekitar 700 hektare. Untuk yang sudah bisa dipanen pada angka 500 hektare. "Jadi ada peluang lebih dari seribu hektare untuk pengembangan budi daya ini," kata Rofiq ditemui di Lapangan Pemda Sleman Minggu (26/4).
Baca Juga: Niat Buat Urus Surat Pengantar, Malah Kena Pungli Rp 500 Ribu: Warga Melapor ke Polres Kulon Progo
Penanaman kopi dia sebut memang terbatas pada tiga kapanewon. Yakni Turi, Pakem, dan Cangkringan. Umumnya produksi paling optimal bagi kopi robusta pada ketinggian lahan 700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tetapi di Sleman ketinggian 450-500 mdpl sudah dilakukan penanaman. Begitu juga dengan arabika yang biasanya ditanam di 1.000 mdpl, di Kabupaten Sleman sudah ditanam sejak ketinggian 700 mdpl.
"Memang kalau naik sekali sudah kena Gunung Merapi jadi malah bahaya," tambahnya.
Menurut Rofiq, salah satu upaya pengembangan yang dilakukan adalah mengajukan proposal bantuan pengembangan pada pemerintah pusat. Sekaligus memberi dukungan pada masyarakat pelindungan indikasi geografis kopi Merapi. Komunitas ini disebut tidak hanya menunjang sisi produksi. Tapi juga pasca-panen dalam hal penjualan.
Tahun ini direncanakan akan mendapat bantuan sepuluh kendaraaan motor roda tiga dari program tanggung jawab sosial perusahaan. Nantinya bantuan ini bisa digunakan untuk menjual kopi siap minum bagi para penikmatnya. "Jadi fokusnya dari hulu sampai hilir dan pelakunya para pelestari kopi Merapi," tambahnya.
Baca Juga: Ahli Waris Pengguna Makam Milik Pemkab Sleman Harus Lakukan Perpanjangan Tiap Tiga Tahun
Sementara itu, salah satu petani kopi di Kabupaten Sleman Sarmin menyebut, yang membuat banyak warga mulai tertarik pada komoditas ini adalah banyaknya bantuan dari pemerintah. Mulai dari bibit, pupuk, hingga peralatan pertanian, seperti angkong, cangkul dan alat pengering kopi.
"Sebenarnya juga jadi kampanye untuk beralih dari pekerjaan tambang pasir. Jangan sampai memberi anak cucu kerusakan," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita