SLEMAN - Suryawinata-Heinzelmann Architecture & Urbanism (SHAU) mendapat penghargaan internasional katagori social architecture dalam Ammodo Architecture Award 2025. Penghargaan ini diperoleh atas desain penataan wilayah Kampung Mrican tahap satu di Depok, Sleman.
Wilayah Mrican kini jadi kampung estetik lewat perpaduan desain modern dengan tetap mengusung unsur lokalitas. Di sini, tersedia perpustakaan mini, taman bermain, pengendali banjir, hingga pusat pengelolaan sampah.
Sangat jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya. Misalnya saluran kamar mandi masyarakat langsung dibuang ke sungai, ditemukan tumpukan sampah, hingga wilayahnya kerap dilanda banjir.
Salah satu tim tenaga ahli arsitektur SHAU Aditya Kusuma mengaku, tugas awal usai ditunjuk adalah mereviu detail engineering design (DED) yang sudah ada. Reviu gambar ini ditunjang tinjauan lapangan dan sosialisasi dengan warga untuk memaksimalkan perencanaan desain.
"Sebelumnya kalau hujan deras itu banjir sampai meluap ke tembok rumah warga. Jadi mereka bikin bedeng tinggi-tinggi," katanya Selasa (21/4).
Fokus utamanya adalah memundurkan permukiman sejauh tiga meter dari sungai. Lalu menyediakan fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) karena kamar mandi warga yang tidak memiliki septic tank. Termasuk membangun Ruang Terbuka Publik Gatotkaca sebagai tempat bermain anak. Aditya bercerita jika anak-anak dulunya terbatas bermain di sungai. Fasilitas penunjang lain juga dibangun demi mengatasi persoalan tata ruang permukiman.
Lingkungan Kampung Mrican sendiri dia nilai memiliki kriteria yang menarik. Sejak awal sudah ada penggiat ekoenzim. Ada kegiatan pembersihan sungai, hingga ada pos kampling sebagai pusat kegiatan warga.
Warga juga sadar bahwa banjir terjadi karena pembangunan yang tidak terkontrol. Jadi, selama proses revitalisasi ini sama sekali tidak ada resistensi dari warga. Padahal hal semacam ini yang dikhawatirkan tim arsitektur asal Bandung ini saat penanganan kawasan kumuh.
"Kami memang sudah mengerjakan beberapa proyek kementerian dan mungkin mereka tertarik dengan portofolio kami," beber lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini.
Aditya menilai, keberanian kementerian untuk berkolaborasi dengan arsitektur yang biasanya bekerja di lini swasta memang membuka peluang desain yang lebih segar. Firma arsitektur yang berdiri pada 2009 ini membawa tema pendidikan dan kebudayaan. Praktiknya diterapkan lewat penggunaan aksara Jawa dan tulisan petuah-petuah Jawa. Sementara teknis desainnya mengusung konsep modern dan minimalis agar mudah perawatannya.
"Susahnya itu menjelaskan pendekatan arsitektur kami. Kenapa lampunya berbeda dari yang dipakai di keraton, kenapa warnanya tidak hijau, kenapa gerbangnya beda," katanya.
Baca Juga: Polres Bantul Tangkap Pelaku Penganiaya Pelajar hingga Tewas, Ternyata Ini Motifnya
Seluruh upaya ini dia sebut memang didasarkan pada tujuan agar desain yang dihasilkan bisa dikenal di dunia internasional. Tidak sekadar di tingkat lokal. Konsep ini diusung setelah dilakukan studi dan pendekatan desain pada negara-negara maju. Kerja keras ini dia sebut dibayar tuntas karena masyarakat kini tidak lagi mengalami banjir, hilangnya timbunan sampah, dan predikat penghargaan ini. Baginya semua ini adalah dampak perencanaan arsitektur yang baik.
"Dulu warga itu sampai buang kasur ke sungai. Tapi sekarang lingkungannya bersih dan bertahan sampai kini. Arsitektur itu juga bisa mengubah perilaku masyarakat," tandasnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita