Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sejak Awal Ingin Diakui Dunia, Cerita Tim SHAU Desain Kampung Kumuh Mrican, Buktikan Desain Bisa Pengaruhi Perilaku Masyarakat  

Delima Purnamasari • Selasa, 21 April 2026 | 21:00 WIB
TERTATA: Desain Kampung Mrican yang dulunya masuk kawasan kumuh, menampilkan penataan yang lebih rapi dan bersih. (Dokumentasi Instagram @shauarchitects)
TERTATA: Desain Kampung Mrican yang dulunya masuk kawasan kumuh, menampilkan penataan yang lebih rapi dan bersih. (Dokumentasi Instagram @shauarchitects)
 

SLEMAN - Suryawinata-Heinzelmann Architecture & Urbanism (SHAU) mendapat penghargaan internasional katagori social architecture dalam Ammodo Architecture Award 2025. Penghargaan ini diperoleh atas desain penataan wilayah Kampung Mrican tahap satu di Depok, Sleman. 

  

Wilayah Mrican kini jadi kampung estetik lewat perpaduan desain modern dengan tetap mengusung unsur lokalitas. Di sini, tersedia perpustakaan mini, taman bermain, pengendali banjir, hingga pusat pengelolaan sampah.

 

Sangat jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya. Misalnya saluran kamar mandi masyarakat langsung dibuang ke sungai, ditemukan tumpukan sampah, hingga wilayahnya kerap dilanda banjir. 

 

Baca Juga: Dapat Kepastian Pelaksanaan Proyek Revitalisasi, DPUPKP Kota Jogja Barengi Penataan Tata Kabel Semrawut di Jembatan Kewek

 

Salah satu tim tenaga ahli arsitektur SHAU Aditya Kusuma mengaku, tugas awal usai ditunjuk adalah mereviu detail engineering design (DED) yang sudah ada. Reviu gambar ini ditunjang tinjauan lapangan dan sosialisasi dengan warga untuk memaksimalkan perencanaan desain. 

 

"Sebelumnya kalau hujan deras itu banjir sampai meluap ke tembok rumah warga. Jadi mereka bikin bedeng tinggi-tinggi," katanya Selasa (21/4). 

 

Fokus utamanya adalah memundurkan permukiman sejauh tiga meter dari sungai. Lalu menyediakan fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) karena kamar mandi warga yang tidak memiliki septic tank. Termasuk membangun Ruang Terbuka Publik Gatotkaca sebagai tempat bermain anak. Aditya bercerita jika anak-anak dulunya terbatas bermain di sungai. Fasilitas penunjang lain juga dibangun demi mengatasi persoalan tata ruang permukiman.

 

Baca Juga: Pemprov DIY Segera Tindaklanjuti Kenaikan Harga dan Kelangkaan Minyak Goreng MinyaKita, Dropping Stok hingga Operasi Pasar

 

Lingkungan Kampung Mrican sendiri dia nilai memiliki kriteria yang menarik. Sejak awal sudah ada penggiat ekoenzim. Ada kegiatan pembersihan sungai, hingga ada pos kampling sebagai pusat kegiatan warga.

 

Warga juga sadar bahwa banjir terjadi karena pembangunan yang tidak terkontrol. Jadi, selama proses revitalisasi ini sama sekali tidak ada resistensi dari warga. Padahal hal semacam ini yang dikhawatirkan tim arsitektur asal Bandung ini saat penanganan kawasan kumuh.

 

"Kami memang sudah mengerjakan beberapa proyek kementerian dan mungkin mereka tertarik dengan portofolio kami," beber lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini. 

 

Aditya menilai, keberanian kementerian untuk berkolaborasi dengan arsitektur yang biasanya bekerja di lini swasta memang membuka peluang desain yang lebih segar. Firma arsitektur yang berdiri pada 2009 ini membawa tema pendidikan dan kebudayaan. Praktiknya diterapkan lewat penggunaan aksara Jawa dan tulisan petuah-petuah Jawa. Sementara teknis desainnya mengusung konsep modern dan minimalis agar mudah perawatannya. 

 

"Susahnya itu menjelaskan pendekatan arsitektur kami. Kenapa lampunya berbeda dari yang dipakai di keraton, kenapa warnanya tidak hijau, kenapa gerbangnya beda," katanya. 

 

Baca Juga: Polres Bantul Tangkap Pelaku Penganiaya Pelajar hingga Tewas, Ternyata Ini Motifnya

 

Seluruh upaya ini dia sebut memang didasarkan pada tujuan agar desain yang dihasilkan bisa dikenal di dunia internasional. Tidak sekadar di tingkat lokal. Konsep ini diusung setelah dilakukan studi dan pendekatan desain pada negara-negara maju. Kerja keras ini dia sebut dibayar tuntas karena masyarakat kini tidak lagi mengalami banjir, hilangnya timbunan sampah, dan predikat penghargaan ini. Baginya semua ini adalah dampak perencanaan arsitektur yang baik. 

 

"Dulu warga itu sampai buang kasur ke sungai. Tapi sekarang lingkungannya bersih dan bertahan sampai kini. Arsitektur itu juga bisa mengubah perilaku masyarakat," tandasnya. (del/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal Grojokan Tamanan #kampung kumuh #Suryawinata-Heinzelmann Architecture & Urbanism (SHAU) #Mrican #Kampung Mrican