SLEMAN – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi sepanjang Senin (12 April 2026). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat terjadinya 4 kali awan panas guguran (APG) serta 133 kali guguran lava selama periode pengamatan 00.00–24.00 WIB.
Menurut laporan Magma-VAR BPPTKG, asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas sedang teramati mencapai tinggi 500 meter di atas puncak kawah. Gunung terlihat jelas meski sesekali diselimuti kabut level 0-II hingga 0-III.
Dari sisi kegempaan, selain 4 awan panas guguran (amplitudo 18-47 mm, durasi 133,48–175,37 detik), tercatat pula 73 kali gempa hybrid/fase banyak, 1 kali gempa tektonik jauh, dan ratusan gempa guguran lainnya.
Awan panas guguran teramati 3 kali mengarah ke Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter, dan 1 kali ke Kali Sat/Putih dengan jarak yang sama. Sementara itu, 44 kali guguran lava mengalir ke arah barat daya, tepatnya ke Kali Sat/Putih dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Baca Juga: Gunakan Aturan Baru Delapan Tahun, Anggaran Pilur di Gunungkidul Disiapkan Rp 2,6 Miliar
Cuaca di sekitar Merapi berubah-ubah antara cerah, berawan, mendung, hingga hujan dengan volume curah hujan 40 mm per hari. Angin bertiup tenang ke arah utara dan barat, suhu udara berkisar 18,2–24,44 °C, dan kelembaban udara 79–99 %.Status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga).
BPPTKG menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung, sehingga potensi terjadinya awan panas guguran tetap ada di dalam daerah potensi bahaya.
Masyarakat dilarang melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya, terutama:
Sektor selatan-barat daya: Sungai Boyong maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km.
Sektor tenggara: Sungai Woro maksimal 3 km, Sungai Gendol 5 km.
Lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Waspada bahaya lahar dan awan panas guguran, khususnya saat hujan di sekitar Gunung Merapi.
Antisipasi gangguan abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selalu pantau perkembangan resmi dari BPPTKG dan PVMBG.
Masyarakat di Sleman (DIY), serta Magelang, Boyolali, dan Klaten (Jawa Tengah) diminta tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Jika terjadi perubahan aktivitas signifikan, status Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.
Baca Juga: ICDP 2026: Kolaborasi Pakar Ungkap Kunci Branding Rumah Sakit yang Kredibel dan Kompetitif
Laporan ini disusun oleh Erwin Widyon dan Suraji dari BPPTKG, berdasarkan data pemantauan visual dan instrumental. (iwa)
(Sumber: Magma ESDM-https://magma.esdm.go.id)
Editor : Iwa Ikhwanudin