SLEMAN - Hamparan Candi Abang hingga jejak lava purba di Jogotirto, Berbah menyimpan daya tarik langka yang belum tergarap optimal akibat keterbatasan pengembangan dan anggaran.
Padahal, jika terintegrasi sebagai wisata edukasi, kawasan ini berpotensi besar menghadirkan pengalaman belajar sejarah dan geografi dalam satu destinasi.
Ulu-Ulu Kalurahan Jogotirto Maryadi mengatakan, ada tiga objek wisata (obwis) potensial yang sedang dikembangkan oleh pemerintah kalurahan (pemkal).
Pertama obwis Candi Abang yang letaknya berada di Dusun Candi Abang, Jogotirto, Berbah, Sleman.
Obwis tersebut diduga merupakan candi yang telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya oleh pemerintah.
Bentuknya unik, seperti bukti hijau yang ada pada tayangan Teletubbies. Banyak wisatawan yang datang untuk berswafoto, lokasi prewedding, pembuatan video klip lagu maupun film.
Baca Juga: Infrastruktur Telekomunikasi Pasif Perlu Ditata, DPRD Kebumen Usulkan Raperda
Dinamakan Candi Abang karena bukit itu merupakan tumpukan batu bata merah yang besar.
Seiring berjalannya waktu, batu bata merah berubah menjadi hijau karena dipenuhi oleh rumput.
"Candi Abang ini kan sebenarnya menjual view ke arah barat itu sangat luar biasa. Dan itu kalau diminati anak-anak muda, terutama yang bagus itu kalau sore hari. Sore hari itu emang ramai-lah di situ," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (10/4/2026).
Baca Juga: Jean Paul van Gastel Akui Belum Aman dari Zona Degradasi di BRI Super League 2025/2026
Tak hanya Candi Abang. Di sekitar area tersebut juga banyak ditemukan situs bersejarah seperti Gua Jepang dan Gua Sentonorejo.
Lokasinya masih berada di sekitar Candi Abang, hanya sekitar 100 meter.
Ada empat mulut Gua Jepang yang masih bisa diakses sampai ke dalam hingga saat ini. Disebut Gua Jepang karena konon yang mendirikan adalah para tentara Jepang pada saat menjajah Indonesia.
"Dulu masyarakat sekitar banyak menemukan obat bom (mesiu) dari dalam goa," bebernya.
Baca Juga: Perbaiki Atap, Dua Pekerja di Karanggayam Tersengat Listrik, Satu Orang Tewas
Masih di area yang sama. Di sana juga terdapat Gua Sentono. Gua kecil yang tidak terlalu dalam, namun dipenuhi dengan ukiran atau relief. Konon, gua tersebut dibangun pada masa Mataram Kuno.
Terdapat tiga bibir gua. Semuanya terdapat ukiran mulai dari Lingga dan Yoni yang dipahatkan menyatu dengan lantai gua, relief arca baik dewa maupun hewan yang kini memang kondisinya sudah rusak sebagian.
"Memang kawasan itu yang mengelola adalah purbakala karena termasuk situs bersejarah. Tapi kami juga ikut memfasilitasi dari segi pariwisata bersama dengan masyarakat setempat," jelasnya.
Baca Juga: 24 Dokter Muda Mulai Bertugas di Magelang, Damar Ingatkan soal Tantangan Pelayanan hingga Fasilitas
Obwis unggulan terakhir di Jogotirto adalah situs Lava Bantal yang gaungnya sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas.
Lokasi tersebut dulunya banyak digunakan sebagai tempat penelitian para mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di DIY.
Melihat adanya potensi tersebut, Pemkal Jogotirto memanfaatkannya dengan dijadikan obwis yang bisa diakses secara umum.
"Pengembangan infrastruktur sudah kami lakukan di objek wisata unggulan itu sejak tahun 2016," katanya.
Baca Juga: Dampak Hujan Deras di Sleman, Sebabkan Tanggul Jebol hingga Rumah Warga Kebanjiran
Lava Bantal yang terletak di lembah Kali Opak Berbah, Sleman itu merupakan artefak sejarah bumi yang dicirikan dengan adanya batuan lava basalt berstruktur bantal berumur 56 juta tahun lalu.
Situs tersebut telah diakui dunia sebagai bagian dari Geopark Gunung Sewu yang diakui UNESCO sebagai kawasan warisan geologi dunia. Maka dari itu, Jogotirto cukup intens dalam pengembangan pariwisata di lokasi tersebut.
"Pas di awal-awal itu kan agak ramai-lah. Terutama di hari libur, hari Sabtu sama Minggu, pengunjung itu dalam satu hari sudah lebih dari 500-an dan paling banyak ada 2.000 orang," terang dia.
Baca Juga: Dominasi Berakhir Sia-Sia, Pelatih Van Gastel Kecewa; Ini Keajaiban Kami Bisa Kalah dari PSM Makassar
Adanya pariwisata yang berjalan disebut juga berimbas pada pelaku UMKM dan masyarakat setempat. Pemkal Jogotirto aktif melibatkan mereka dalam berbagai event seperti jalan sehat maupun festival jajanan tradisional yang diadakan di sekitar obwis.
"Terkahir membuat event itu kita di tahun 2024, tahun berikutnya tidak ada lagi karena ada efisiensi anggaran," sambungnya.
Dari pengalaman dan potensi yang ditemukan di Kalurahan Jogotirto itu, ia bersama dengan pemkal berencana akan membentuk paket wisata yang mengintegrasikan semuanya.
Baca Juga: Pemakaian Listrik Dikurangi, Sebagian ASN Beralih Naik Sepeda saat Pemberlakuan WFH di Pemkab Bantul
Konsep yang ditawarkan adalah wisata edukasi.Mengingat banyak obwis yang ada menyimpan nilai sejarah yang tinggi. Bahkan jarang ditemukan di lokasi lain.
"Konsep besarnya itu sudah ada, sudah kami ajukan ke Dinas Pariwisata (Dinpar) Sleman juga, tapi ya memang belum jalan karena mungkin adanya efisiensi anggaran beberapa tahun terakhir ini," bebernya. (oso/wia)