SLEMAN – Penggambaran Yesus diarak, disiksa hingga disalib membuat jemaat Gereja ST. Ignatius Temanggal, Kalasan, Sleman terharu hingga menangis, Jumat (3/4).
Tangis pilu pecah saat adegan Yesus diarak menuju tanah lapang, lokasi penyiksaan terakhirnya. Dalam beberapa literatur, itu merupakan representasi dari Golgota atau lokasi Yesus disalib dan disiksa hingga wafat bersama dengan dua penjahat.
Tablo Jumat Agung Kisah Sengsara Yesus Kristus yang dimainkan Orang Muda Katolik (OMK) Gereja ST. Ignatius Temanggal, Kalasan, Sleman di kompleks gereja, Jumat (3/4).
Visualisasi drama yang mengadopsi kisah dalam Alkitab itu mampu menyentuh hati para jemaah gereja yang datang.
Setiap pemain mendalami peran mereka. Ada yang menjadi prajurit Romawi atau para algojo, Maria yang merupakan ibunda Yesus, dan beberapa pengikutnya.Kostum dan properti yang dikenakan mendukung visual pertunjukan teatrikal pada siang itu.
Terlebih, puncak adegan Golgota itu diiringi musik yang dimainkan secara langsung. Suara kontra bass, biola, dan lonceng yang menyayat hati seakan menambah pilu bagi para umat yang menyaksikan.
Anak-anak hingga orang tua ramai menyaksikan adegan tersebut. Semuanya seperti terhipnotis. Tak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata, merenungkan betapa pedihnya penyiksaan yang dialami oleh Yesus kala itu. Namun, itulah yang menjadi tujuan utama diadakannya pertunjukan teatrikal tersebut.
"Semacam perenungan peristiwa, kami memvisualisasikan kisah atau adegan dari Alkitab," ujar sutradara Tablo Jumat Agung Kisah Sengsara Yesus Kristus, Giwang Topo saat ditemui pasca pertunjukan, Jumat (3/4).
Adegan inti yang diperankan selama 60 menit itu di antaranya perjamuan malam, penangkapan Yesus hingga dihukum sampai mati dan diturunkan dari salib tempat ia dihukum. Aktor bisa melakukan improvisasi kecil pada adegan-adegan tertentu. Namun, ada semacam pakem yang tidak boleh dilanggar. "Karena ini dari kitab suci, misal dialog Yesus ngomong apa, Maria ngomong apa, terus imam agung apa," jelasnya.
Baca Juga: IRGC Luncurkan Eempat Rudal Ghadr Ke Kapal Induk USS Abraham Lincoln
Hampir 10 tahun sejak 2017, pertunjukan Tablo Jumat Agung tidak diadakan di gereja tersebut. Para senior OMK yang dulu pernah mengikuti pertunjukan tersebut menginisiasi agar dilaksanakan kembali. Mereka bahkan ikut mendampingi dari pengadaan dana, proses latihan hingga pementasan. "Ada 30 anak muda yang ikut menjadi aktor dalam pertunjukan," bebernya.
Mereka bukan berasal dari bidang seni teater. Namun, menurutnya, mereka mempunyai keinginan besar untuk belajar. Tidak ada kendala yang berarti selama latihan yang berlangsung selama dua bulan sebelum pementasan itu. "Efektif sekitar 25 kali pertemuan," imbuhnya.
Mayoritas pemeran statusnya masih bersekolah. Setiap latihan, ia selalu memberikan target dalam bentuk prosentase sebagai semangat anak-anak.Baginya, proses kreatif pertunjukan itu tidak semata-mata mengejar kemasan pementasan yang bagus.
Namun, lebih melakukan kaderisasi dan merekatkan para OMK gereja. "Ini juga untuk cikal bakal karena masih ada yang SMP, SMA, biar ngumpul jadi satu, biar enggak ada gap antara senior sama yang junior," bebernya.
Pemeran Yesus, Victor Yuna Aditya Putra, menyampaikan rasa bangganya ia bisa terpilih.untuk memerankan peran utama pertunjukan tersebut. Awalnya ia memang merasa berat ketika mendapatkan peran tersebut. Sebab, di samping hapalan dialog yang banyak, ia juga harus bisa menjiwai sebagai peran utama. Menurut dia, banyak adegan-adegan yang seperti penyiksaan yang cukup berat untuk dilakukan. “Tapi berkat dukungan dari teman-teman, pendamping, pelatih juga, puji Tuhan bisa berjalan lancar hingga pentas ini," ujar Siswa SMA Kolase De Brito itu. (oso/pra)
Editor : Heru Pratomo