SLEMAN, Radar Jogja – Aktivitas Gunung Merapi masih tergolong tinggi. Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode pengamatan Kamis, 2 April 2026 pukul 00.00–24.00 WIB, tercatat ratusan kejadian guguran lava dan satu kali awan panas guguran.
Dalam laporan tersebut, Merapi yang berada di perbatasan Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten ini masih berstatus Level III (Siaga).
Secara visual, gunung tampak jelas dengan kabut tipis hingga sedang. Asap kawah berwarna putih teramati dengan intensitas tebal, dengan tinggi berkisar antara 25 hingga 400 meter di atas puncak.
Cuaca di sekitar gunung didominasi mendung dan berawan. Angin bertiup lemah ke arah barat dan timur, dengan suhu udara berkisar 17,9–23,8 derajat Celsius. Curah hujan tercatat 7 mm per hari, dengan kelembapan mencapai 87,6–100 persen.
BPPTKG mencatat aktivitas kegempaan yang cukup intens selama periode pengamatan, meliputi:
1 kali awan panas guguran dengan durasi 91,71 detik
145 kali guguran lava
83 kali gempa hybrid/fase banyak
1 kali gempa vulkanik dangkal
6 kali gempa tektonik jauh
Awan panas guguran teramati meluncur ke arah Kali Boyong dengan jarak maksimum 1.100 meter. Selain itu, terjadi 22 kali guguran lava ke arah Kali Krasak dengan jarak luncur hingga 2.000 meter.
BPPTKG mengingatkan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya, meliputi aliran sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km.
Sementara itu, sektor tenggara berpotensi terdampak di aliran Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan turun di kawasan lereng Merapi.
Selain itu, warga juga diimbau mengantisipasi dampak abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih terus berlangsung, yang berpotensi memicu awan panas guguran sewaktu-waktu di dalam zona bahaya.
BPPTKG menegaskan, jika terjadi perubahan aktivitas signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin