Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Duh, Ekonomi Belum Membaik! Jadi Salah Satu Pemicu Turunnya Wisatawan Sleman saat Lebaran

Delima Purnamasari • Kamis, 2 April 2026 | 20:36 WIB
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Kus Endarto. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Kus Endarto. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)

 

SLEMAN - Jumlah wisatawan Kabupaten Sleman selama Lebaran 2026 turun 9,57 persen dibandingkan tahun lalu. Dari 556,033 wisatawan menjadi hanya 502,267.

Hal ini juga berpengaruh pada turunnya retribusi yang diterima destinasi yang dikelola atau dikelola bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman sebesar 18,04 persen.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Kus Endarto menjelaskan, salah satu pemicunya adalah kondisi ekonomi yang belum membaik dan menimbulkan fenomena micro-tourism.

Wisatawan cenderung fokus mengeksplorasi destinasi di sekitar tempat tinggal yang mudah dijangkau dalam waktu singkat. 

Baca Juga: Wisata Tempat Cekrek! 5 Rekomendasi Self Photo Studio di Yogyakarta

Data ini diperkuat dari komposisi wisatawan nusantara yang berkunjung ke Sleman, sebanyak 35,6 persen berasal dari Jawa Tengah dan DIJ, disusul 32,4 persen berasal dari Jawa Timur.

Kus juga menyoroti libur Lebaran 2025 yang lebih panjang di akhir bila dibandingkan dengan libur Lebaran 2026 yang lebih panjang di awal.

"Kondisi cuaca juga tidak menentu. Terjadi panas ekstrem beberapa hari jelang puasa berakhir dan hujan di siang hari saat H+2 sampai akhir libur lebaran," katanya dikonfirmasi, Kamis (2/4/2026).

Kondisi ekonomi juga memengaruhi rata-rata belanja wisatawan yang juga mengalami penurunan. Jika pada 2025 sebesar Rp 1 juta sampai Rp 1,2 juta, turun drastis jadi Rp 563.759.

Wisatawan disebut lebih menahan diri untuk membelanjakan uangnya di tempat wisata. Meski volume kendaraan atau orang di Bumi Sembada terlihat banyak, mereka disebut sebagai wisatawan pelintas yang tidak menginap atau membelanjakan banyak uang di destinasi lokal.

Baca Juga: 1,9 Juta Wisatawan Tercatat Mengunjungi Destinasi di DIY Selama Libur Lebaran, Mengalami Kenaikan Dibanding Tahun Lalu 

Menurutnya, kondisi ini terjadi sama halnya dengan fenomena yang terjadi di pusat perbelanjaan beberapa waktu yang lalu.

Di antaranya, rombongan jarang beli (Rojali), rombongan hanya nanya (Rohana), rombongan hanya lihat-lihat (Rohali), rombongan manis senyum saja (Romansa), rombongan tanpa transaksi (Rotasi), hingga rombongan suka selfie (Rosali).

"Hal ini sejalan dengan rata-rata okupansi hotel bintang maupun non-bintang sebesar 70 persen, turun dibanding 2025 sebesar 80 persen," tambahnya.

Menurut Kus, ekonomi yang belum baik mengakibatkan banyak pemudik memilih tinggal di rumah keluarga atau kerabat dekat daripada di hotel.

Selain itu, keberadaan akomodasi tak berizin yang menawarkan harga lebih murah juga dia soroti. Kondisi ini terkonfirmasi dari turunnya persentase belanja akomodasi menjadi 25,4 persen, dari sebelumnya 29,5 persen.

Baca Juga: Buntut Keluhan Wisatawan  Ditarik Retribusi Dobel  saat lewat Parangtritis, Pemkab Gunungkidul Minta Pemprov DIJ Fasilitasi Penyelesaian dengan Bantul

Instansi ini terus mencermati fenomena wisatawan saat Lebaran 2026 ini. Untuk itu tengah diupayakan penguatan promosi secara langsung ke pasar potensial, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Selain itu, pelaksanaan table top atau travel dialog ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta pameran skala nasional yang diharapkan bisa mempertahankan capaian pergerakan wisatawan ke Kabupaten Sleman tahun lalu.

"Koordinasi dan kerja sama dengan stakeholder pariwisata terus ditingkatkan dalam kaitannya mengatasi keterbatasan yang ada," tandasnya. (del)

Editor : Herpri Kartun
#lebaran 2026 #Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman #Wisatawan #Rombongan Jarang Beli