Yogyakarta – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi sepanjang Selasa (31/3/2026). Berdasarkan laporan resmi MAGMA-VAR periode pengamatan 00.00–24.00 WIB dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), tercatat ratusan kejadian gempa guguran dan hybrid, serta 20 kali guguran lava mengalir ke arah barat daya.
Gunung Merapi yang berada di wilayah Sleman (DIY), Magelang, Boyolali, dan Klaten (Jawa Tengah) dengan ketinggian 2.968 mdpl ini masih berada pada tingkat aktivitas Level III (Siaga).
Kondisi Cuaca dan Visual
Cuaca di sekitar puncak Merapi cerah hingga mendung dengan angin bertiup tenang ke arah barat, timur, dan utara. Suhu udara berkisar 17,2–25,4 °C, kelembaban 76–98,3 persen, tekanan udara 872,1–918,2 mmHg, dan curah hujan tercatat 15 mm per hari.
Secara visual, gunung terlihat jelas dengan kabut level 0-III. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih tipis teramati mencapai tinggi sekitar 50 meter di atas puncak kawah.
Baca Juga: HUT ke-26 Radar Jogja Integritas, Kepercayaan dan Istimewa
Aktivitas Kegempaan
Selama 24 jam pengamatan, BPPTKG mencatat:130 kali gempa guguran (amplitudo 2–25 mm, durasi 55,56–237,83 detik)
93 kali gempa hybrid/fase banyak (amplitudo 2–45 mm, S-P 0,2–0,8 detik, durasi 7,45–49,88 detik)
1 kali gempa vulkanik dangkal (amplitudo 41 mm, durasi 20,67 detik)
2 kali gempa tektonik jauh (amplitudo 3 mm, durasi 60,64–62 detik)
Guguran LavaTeramati 20 kali guguran lava mengarah ke Barat Daya, tepatnya menuju Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Baca Juga: Tak Pernah Kompromi dengan Asing, Pakar Sejarah Ungkap Sultan HB II Layak Jadi Pahlawan Nasional
Rekomendasi BPPTKG
Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk:
Tidak melakukan aktivitas apapun di dalam daerah potensi bahaya. Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG).
Sektor selatan-barat daya: Sungai Boyong maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km.
Sektor tenggara: Sungai Woro maksimal 3 km, Sungai Gendol 5 km.
Lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran terutama saat hujan deras di sekitar Gunung Merapi.
Mengantisipasi gangguan abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan BPPTKG.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, sehingga potensi awan panas guguran di dalam daerah bahaya masih ada. Jika terjadi perubahan aktivitas signifikan, status Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.
Laporan ini disusun oleh petugas BPPTKG, Suratno dan Yulianto, berdasarkan data KESDM, Badan Geologi, PVMBG, serta laman resmi MAGMA Indonesia (https://magma.esdm.go.id).
Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang namun waspada dan hanya mengandalkan informasi resmi dari PVMBG/BPPTKG. Pantau terus update Gunung Merapi hari ini di Radar Jogja. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin