Yogyakarta – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi sepanjang Minggu (29 Maret 2026). Dalam 24 jam pengamatan, tercatat ratusan kejadian gempa guguran dan hybrid, serta 17 kali guguran lava pijar yang mengalir ke arah barat daya dengan jarak maksimum 2.000 meter.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta merilis laporan aktivitas Gunung Merapi periode 29 Maret 2026 pukul 00.00–24.00 WIB. Gunung berstatus Level III (Siaga) masih berlaku hingga saat ini.
Menurut laporan MAGMA-VAR dari KESDM-Badan Geologi-PVMBG, kondisi cuaca di kawasan Merapi berubah dari cerah hingga hujan dengan volume curah hujan mencapai 60 mm per hari. Angin bertiup tenang ke arah barat dan timur, suhu udara berkisar 18,8–26,4°C, dan kelembaban udara 78–99,3%.Secara visual, gunung terlihat jelas dengan kabut level 0-III. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih tebal teramati mencapai tinggi 375 meter di atas puncak kawah.
Baca Juga: Larangan Medsos untuk Anak di Bawah Umur Disambut Baik, Namun Tetap Butuh Peran Aktif Orang Tua
Rincian Kegempaan dalam 24 Jam:
Gempa Guguran: 125 kali (amplitudo 2–33 mm, durasi 29,68–210,05 detik)
Gempa Hybrid/Fase Banyak: 75 kali (amplitudo 2–60 mm, durasi 11,99–60,33 detik)
Gempa Vulkanik Dangkal: 2 kali (amplitudo 6–18 mm, durasi 9,49–15,25 detik)
Gempa Tektonik Jauh: 5 kali (amplitudo 2–29 mm, durasi 35,3–101,3 detik)
Petugas juga mencatat 17 kali guguran lava mengarah ke Barat Daya, meliputi Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Potensi Bahaya dan Rekomendasi BPPTKG:
Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG) pada sektor selatan-barat daya:
Sungai Boyong maksimal 5 km
Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km
Sektor tenggara: Sungai Woro maksimal 3 km, Sungai Gendol maksimal 5 km.
Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Suplai magma masih berlangsung, sehingga potensi awan panas guguran di dalam daerah bahaya tetap tinggi.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya.
Waspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan deras di sekitar Gunung Merapi.
Antisipasi gangguan akibat abu vulkanik jika terjadi erupsi.
BPPTKG menegaskan bahwa data pemantauan menunjukkan aktivitas masih fluktuatif. Jika terjadi perubahan signifikan, tingkat aktivitas akan segera ditinjau kembali.
Laporan ini disusun oleh Alzwar Nurmanaji, A.Md dan Tri Mujiyanta berdasarkan data pemantauan BPPTKG Yogyakarta. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin