SLEMAN - Persoalan relokasi SDN Nglarang, Tlogoadi, Mlati, Sleman yang terdampak Tol Jogja-Solo paket 2.2 akhirnya menemui titik terang. Hal ini usai sebelumnya dikabarkan batal dilakukan direlokasi dan hanya dilakukan renovasi atas bangunan lama.
Kepala Dinas Pendidikan Sleman Mustadi menjelaskan, kepastian ini diputuskan usai dilakukan rapat bersama seluruh elemen pada Jumat (13/3) lalu. Untuk proses perizinan diperkirakan selesai pada Maret ini dan pembangunan gedung baru dimungkinkan mulai April.
Baca Juga: Kebut Perbaikan Jalan Senilai Rp 250 Juta, Pemkab Kulon Progo Perbaiki 11 Ruas jelang Lebaran: Target H-3 Selesai
Nantinya sebagian bangunan yang terdampak akan langsung dikerjakan oleh kontraktor tol. Sementara para murid akan tetap bertahan sembari menunggu bangunan baru yang diperkirakan butuh waktu enam bulan. Dia berharap kondisi sementara ini tidak akan mengganggu kenyamanan para siswa. Lantaran tetap akan ada mekanisme pengamanan yang diberlakukan.
"Jadi pengerjaan dilakukan saat anak-anak selesai tes kemampuan akademik. Hal ini akan kami sampaikan pada wali murid," katanya Senin (16/3).
Baca Juga: Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Levante La Liga Selasa 17 Maret 2026
Lokasi SDN Nglarang yang baru dia sebut berada di utara tol dan tidak jauh dari sekolah yang lama. Lokasinya sama-sama berdiri di atas tanah kas desa. Mustadi menyebut, anggaran dari penyedia jalan tol terbatas sekitar Rp 3 miliar. Untuk itu nantinya akan ada kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman.
"Jadi butuh biaya yang disiapkan pemkab. Untuk tambahan jumlahnya belum bisa dipastikan," katanya.
Menurutnya, memang rencana relokasi SDN Nglarang ini cukup rumit. Berawal dari pemilihan lokasi yang terganjal lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). Lalu baru dipastikan usai pindah ke lahan ketiga ini.
Baca Juga: Pembangunan Masif Objek Wisata Jadi Sorotan! KSKG Siap Sengketakan PPID Gunungkidul jika Tak Buka Data Perizinan Pariwisata di Sepanjang Pantai
Sementara itu, Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Sleman Dona Saputra Ginting menyebut, pembahasan terakhir memang ada dua pilihan. Pertama, sekolah tidak direlokasi dan uang dari tol akan digunakan untuk mengganti bangunan yang terdampak. Lokasinya menyambung di timur sekolah. Hanya saja saat ini digunakan sebagai balai warga sehingga ketika menggunakan opsi ini harus membangun ulang balai tersebut.
Sementara opsi kedua adalah membuat bangunan baru di utara, tetapi harus menambah dana. Apalagi perlu dilakukan pengurukan terlebih dahulu. "Jadi masing-masing opsi memang ada plus dan minusnya," katanya.
Baca Juga: Tips Ala Honda Istimewa, 6 Hal Penting Bagi Pengendara Motor Saat Mudik
Dona mengatakan, nilai ganti rugi sekolah memang sekitar Rp 3 miliar. Lantaran penghitungan didasarkan pada nilai bangunan terdampak dan nilai sewa tanah untuk tol. Bangunan yang di atas tanah kas desa ini dia sebut memang berbeda jika dibandingkan dengan tanah hak milik. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita