SLEMAN - Jelajah serangga bisa jadi salah satu pilihan kegiatan seru untuk menunggu waktu berbuka puasa.
Tidak hanya untuk anak-anak, acara observasi langsung ke alam ini juga cocok dilakukan oleh orang dewasa.
Marketing & Event Manager Nara Kupu Jogja Tomy Tri Ivananto menjelaskan, kegiatan ini digelar sebagai ruang edukasi.
"Jadi para peserta bisa membedakan kupu-kupu, ngengat, hingga reptil," katanya ditemui di sela-sela acara di Nara Kupu Jogja, Pandanpuro, Hargobinangun, Sleman, Minggu (8/3/2026).
Kegiatan yang digelar seminggu sekali selama bulan Ramadan ini turut berkolaborasi dengan edukator.
Mereka berasal dari Kelompok Studi Entomologi dan Kelompok Studi Herpetologi Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dengan demikian, harapannya materi bisa tersampaikan dengan baik pada para peserta.
Dalam jelajah serangga ini kegiatan diawali dengan eksibisi serangga, reptil, dan perkebunan modern.
Di sini para peserta bisa melihat insektarium, yakni tempat untuk mengawetkan serangga berbagai jenis dan ukuran.
Setelah itu, dilanjutkan dongeng sains dan berbuka puasa. Puncak kegiatannya adalah memasang perangkap serangga dengan sinar UV atau yang disebut dengan light trapping.
Di sini akan dibentangkan kain besar agar serangga bisa menempel untuk bisa diobservasi.
Lewat kegiatan menjelajah ini diharapkan peserta bisa memiliki kegiatan bermanfaat dan pengalaman baru.
Baca Juga: Mudik Lewat Jogja? 195 Masjid Ini Siap Jadi Rest Area Pemudik bertajuk Masjid Ramah Musafir
"Peserta banyak anak-anak hingga mahasiswa. Termasuk dosen yang memang berminat di bidang biologi," katanya.
Menurut Tomy ada berbagai serangga yang bisa ditemui. Mulai dari belalang, capung, jangkrik, hingga ngengat.
Para peserta juga berkesempatan ikut menangkap ular dan katak.
"Light trapping tergantung ekosistemnya. Ketika di pasang di hutan tentu saja akan mengundang serangga yang berbeda," tambahnya.
Sementara itu, salah satu anggota Kelompok Studi Entomologi UGM Desi Trianawati menjelaskan, serangga sebenarnya bisa dijadikan sebagai bioindikator alam.
Contohnya, ketika di suatu daerah tidak lagi ditemukan capung maka bisa diindikasikan sudah mulai tercemar.
Begitu juga jika suatu daerah banyak ditemukan kupu-kupu, berarti ekosistemnya masih bagus.
"Di sini itu masih bisa ditemukan ephemeroptera yang sudah jarang ditemui. Serangga yang hidup di air ini jadi indikator kalau ekosistem masih alami," katanya. (del/wia)