Wadah ini digunakan untuk membawa makanan kering selama bulan Ramadan.
Banyak warganet menilai dengan anggaran yang besar semestinya satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) bisa memfasilitasi bungkus ini.
Kepala SPPG Bimomartani 2, Muhammad Wigi Saputra menjelaskan, pihaknya telah menyediakan tas spunbond atau totebag untuk penyaluran MBG.
Hanya saja sesuai dengan petunjuk teknis wadah ini tidak bisa dibawa pulang para siswa dan langsung ditarik kembali oleh SPPG.
Dia menilai permintaan untuk membawa wadah MBG merupakan kebijakan dari sekolah. Bukan dari SPPG yang meminta.
"Kami juga tidak bisa menyediakan plastik untuk dibawa pulang karena menambah sampah dan membuat anggaran membengkak," katanya ditemui di SPPG Bimomartani 2, Balong, Bimomartani, Ngemplak, Sleman, Selasa (3/3).
Pantauan Radar Jogja di MTsN 3 Sleman memang para siswa mengambil MBG kering pada tas atau plastik.
Masing-masing diberikan identitas berupa nama dan kelas masing-masing.
Salah satu wali murid MTsN 3 Sleman, Wulan membenarkan bahwa wali murid diminta membawakan pembungkus MBG ini.
Maksimal dikumpulkan pada Senin (2/3) lalu. Dia sebut tidak ada ketentuan khusus terkait wadah ini.
Bisa totebag atau plastik. Bisa juga satu kelas mengkoordinir untuk membelikan plastik menggunakan uang kas.
"Sekolah tidak menyediakan karena butuh biaya. Jadi yang dibawa pulang tasnya sendiri-sendiri," katanya.
Dia menilai sebenarnya kebijakan ini kurang efektif. Terbukti dari anaknya yang merasa repot harus mencari totebag miliknya yang tertumpuk dengan siswa lain.
Hingga akhirnya memilih membawa milik temannya. Sebenarnya bisa saja wali murid tidak membawakan tas atau plastik ini. Namun, MBG kering ini harus dibawa pulang secara satuan sehingga lebih repot.
"Harapannya MBG diubah jadi makanan mentah aja biar bisa diolah karena saat berbuka kadang sudah basi dan tidak dimakan," katanya.
Hal senada diungkapkan oleh wali murid MTsN 3 Sleman yang lain, Abdul.
Dia membenarkan bahwa diinformasikan dari sekolah untuk mengumpulkan kantong spunbond atau plastik kresek putih bening berukuran 1 kilogram.
Diberi identitas nama serta kelas lalu diserahkan pada petugas MBG di sekolah.
"Anak saya pakai totebag. Tiap pagi bawa ke sekolah untuk dikumpulkan terus diisi MBG dibawa pulang," katanya.
Dia berharap ada evaluasi menyeluruh pada program MBG ini. Apalagi jika dihitung-hitung harga yang disajikan dia nilai tidak sesuai dengan nominal di lapangan.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MTsN 3 Sleman, Nur Hudariyanto mengaku tidak bisa menjelaskan lebih jauh persoalan ini. Dia hanya menegaskan persoalan pembungkus ini sudah terkendali. (del)
Editor : Bahana.