Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masjid Darunna’iem Kleben, Caturharjo, Sleman, Genap Satu Abad, Jejak Masjid Tiban hingga Bukti Peta Belanda Tahun 1933

Iwa Ikhwanudin • Senin, 9 Februari 2026 | 19:45 WIB
Kegiatan dalam rangka syukuran seabad berdirinya Masjid Darunna’iem, di Padukuhan Kleben, Kalurahan Caturharjo, Sleman.
Kegiatan dalam rangka syukuran seabad berdirinya Masjid Darunna’iem, di Padukuhan Kleben, Kalurahan Caturharjo, Sleman.

SLEMAN - Seratus tahun bukanlah rentang waktu yang singkat.

Di Padukuhan Kleben, Kalurahan Caturharjo, Sleman, perjalanan panjang itu menjadi saksi berdirinya Masjid Darunna’iem.

Rumah ibadah sederhana yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sejak 1926.

Keberadaan masjid ini kian menemukan penguat ketika dikaitkan dengan peta Belanda yang diterbitkan Dinas Topografi Hindia Belanda pada 1933.

Peta Belanda yang diterbitkan Dinas Topografi Hindia Belanda pada 1933.
Peta Belanda yang diterbitkan Dinas Topografi Hindia Belanda pada 1933.

Pegiat Sejarah Hari Wahyudi menyebut dalam peta tersebut, kawasan Kleben sudah ditandai sebagai area masjid dan makam di dataran setempat.

"Penanda itu menunjukkan bahwa sebelum tahun tersebut, masjid telah berdiri dan digunakan masyarakat, sehingga usianya kini mendekati bahkan melewati satu abad," ungkap pria yang bergabung dalam komunitas Citralekha Peradaban Yogyakarta itu. 

Nama Darunna’iem secara harfiah berarti rumah kenikmatan atau tempat berkah.

Masjid ini berdiri pada masa kolonial, bertepatan dengan periode penting kelahiran Nahdlatul Ulama (NU) oleh KH Hasyim Asy’ari.

Imam Masjid Darunna’iem, Nur Jamil Dimyati (69), mengatakan dirinya merupakan penerus generasi ketiga yang mendapat amanah merawat masjid.

Meski catatan tertulis tidak banyak ditemukan, ia bersama para sesepuh terus berupaya menelusuri jejak sejarahnya.

“Dokumen memang terbatas. Tapi dari cerita para leluhur, kami yakin masjid ini sudah menjadi pusat kehidupan warga sejak dulu,” ujarnya saat ditemui, Minggu (8/2/2026).

Sesepuh setempat, Sudjito (79) menambahkan, berdasarkan kisah turun-temurun, dahulu terdapat masjid yang dikenal sebagai masjid tiban. 

Bentuknya menyerupai masjid-masjid Pathok Negoro, beratap ijuk dengan ukuran sekitar 9 x 9 meter.

Di kawasan itu juga terdapat sumur tiban dan makam kuno.

“Cerita yang kami terima, pada masa sebelumnya konon tempat ini pernah pula disinggahi Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya,” kata Sudjito.

Seiring perjalanan waktu, bangunan masjid mengalami sejumlah pembaruan.

Namun beberapa bagian lama tetap dipertahankan.

Terutama sokoguru pada joglo yang menjadi penopang utama.

“Masjid Darunna’iem dahulu dibangun dengan penuh gotong royong. Materialnya seadanya, tapi semangat kebersamaannya luar biasa,” ungkap Nur.

Baginya, masjid bukan sekadar tempat menunaikan salat.

Dari sana warga belajar mengaji, bermusyawarah, hingga membicarakan masa depan kampung.

“Dulu orang datang membawa kayu, bambu. Siapa punya apa disumbangkan. Masjid ini menyatukan warga lintas generasi,” ujarnya.

Memasuki usia satu abad, masyarakat Kleben sepakat menggelar rangkaian kegiatan sebagai wujud syukur.

Perayaan diawali kirab budaya mengelilingi padukuhan pada Minggu (8/2/2026).

Warga dari tiga padukuhan (Kleben, Keceme, dan Bejen) mengenakan pakaian tradisional sambil membawa empat gunungan hasil bumi dan berbagai simbol keberkahan.

Malam berikutnya, Senin (9/2/2026), halaman masjid akan dipenuhi lantunan shalawat dalam Festival Hadroh.

Tabuhan rebana menjadi cara generasi muda merawat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus memeriahkan milad ke-100 Darunna’iem.

Nuansa budaya terus hadir melalui pertunjukan Tari Kubro pada Selasa malam (10/2/2026) serta kesenian Badui pada Rabu malam (11/2/2026).

Dua kesenian bernapaskan dakwah tersebut menjadi penanda bahwa syiar Islam di Kleben sejak lama berjalan beriringan dengan tradisi.

Rangkaian peringatan akan ditutup pada Sabtu (14/2/2026) lewat semakan Alquran dan pengajian akbar bersama Kiai Ahmad Zaenal Mubarok. 

Momentum itu diharapkan menjadi pertemuan antara rasa syukur atas perjalanan satu abad dan doa untuk keberkahan masa depan.

“Semoga masjid ini tetap menjadi pusat pembinaan akhlak dan perekat persaudaraan warga selamanya,” harap Nur Jamil. (*/naf)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kalurahan Caturharjo #Padukuhan Kleben #masjid zaman belanda #Kabupaten Sleman #Masjid Darunnaiem