SLEMAN – Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih menunjukkan aktivitas vulkanik cukup tinggi.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan adanya peningkatan guguran lava serta awan panas guguran selama periode pengamatan 8 Februari 2026 dari pukul 00.00 hingga 24.00 WIB.
Gunung berapi setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut ini tetap berada pada Tingkat Aktivitas Level III (Siaga).
Cuaca di sekitar puncak berawan hingga mendung dengan angin bertiup tenang ke arah barat dan timur.
Suhu udara tercatat berkisar antara 18,8 hingga 26,4 derajat Celsius, kelembaban udara 70,6–87,5 persen, tekanan udara 873–916 mmHg, serta curah hujan mencapai 27 mm sepanjang hari.
Secara visual, gunung tampak jelas meski diselimuti kabut ringan hingga sedang.
Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas sedang teramati naik setinggi 20 meter di atas puncak kawah.
Selama periode pengamatan, tercatat tiga kali awan panas guguran, 95 kali guguran lava, 60 kali gempa hybrid atau fase banyak, dua kali gempa vulkanik dangkal, serta satu kali gempa tektonik jauh.
Secara khusus, guguran lava teramati sebanyak 14 kali mengalir ke arah Kali Sat/Putih dan Kali Krasak dengan jarak luncur terjauh mencapai 2.000 meter.
BPPTKG menyatakan bahwa suplai magma ke permukaan masih berlangsung sehingga berpotensi memicu awan panas guguran di dalam kawasan rawan bencana.
Potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran yang mengarah ke sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan jarak maksimal 7 kilometer.
Di sektor tenggara, bahaya mengarah ke Sungai Woro dengan jarak maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun di kawasan potensi bahaya.
Selain itu, perlu diwaspadai bahaya lahar serta awan panas guguran terutama saat hujan turun di sekitar Gunung Merapi, serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik yang dapat terbawa angin.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin