SLEMAN - Gunung Merapi (2.968 mdpl) yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah (Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, serta Klaten) masih menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi. Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode pengamatan 29 Januari 2026 pukul 00.00–24.00 WIB, tercatat ratusan gempa guguran dan hybrid, serta puluhan luncuran lava pijar ke arah barat daya.
Dalam laporan harian MAGMA-VAR yang dirilis oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, visual gunung tampak jelas dengan kabut ringan hingga sedang. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih tipis teramati setinggi sekitar 10 meter di atas puncak kawah. Cuaca cerah hingga mendung, angin tenang ke timur dan barat, suhu udara 18,9–24,9 °C, kelembaban 69,6–88,6%, serta tekanan udara 873–917 mmHg.
Parameter kegempaan mencatat:
- Guguran : 138 kali (amplitudo 2–37 mm, durasi 27,04–324,72 detik)
- Hybrid/Fase Banyak : 103 kali (amplitudo 2–31 mm, S-P 0,2–0,9 detik, durasi 7,28–53,22 detik)
- Tektonik Jauh : 6 kali (amplitudo 2–4 mm, durasi 17,01–170,07 detik)
Selain itu, teramati 32 kali guguran lava mengarah ke sektor barat daya, yakni Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter (2 km). Aktivitas ini konsisten dengan tren sebelumnya di Januari 2026, di mana guguran lava pijar sering terjadi ke arah yang sama dengan jarak serupa.
Status aktivitas Gunung Merapi tetap berada pada Level III (Siaga). BPPTKG menyatakan suplai magma masih berlangsung, sehingga berpotensi memicu awan panas guguran (APG) di dalam zona potensi bahaya.
Rekomendasi BPPTKG kepada masyarakat:
1. Hindari segala aktivitas di zona potensi bahaya, termasuk:
- Sektor selatan-barat daya: Sungai Boyong maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km.
- Sektor tenggara: Sungai Woro maksimal 3 km, Sungai Gendol 5 km.
- Lontaran material vulkanik jika erupsi eksplosif: radius 3 km dari puncak.
2. Waspadai bahaya lahar dan APG terutama saat hujan di sekitar Gunung Merapi.
3. Antisipasi gangguan akibat abu vulkanik jika terjadi peningkatan erupsi.
4. Tidak melakukan kegiatan di daerah berisiko, dan selalu ikuti arahan pemerintah setempat.
Jika terjadi perubahan aktivitas signifikan, tingkat aktivitas akan segera ditinjau ulang. Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak panik, dan mengikuti informasi resmi dari BPPTKG/PVMBG melalui situs magma.esdm.go.id atau media sosial resmi @PVMBG.
Laporan ini disusun oleh Suratno dan Tri Mujiyanta (BPPTKG). Sumber: MAGMA Indonesia, Badan Geologi, KESDM. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin