SLEMAN - Belum ada sentra pertanian produksi bawang merah di Bumi Sembada. Padahal, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman mencatat total luas panen pada 2025 mencapai 11.57 hektare dengan produksi 944.35 kuintal. Produksi tertinggi berada di Kapanewon Cangkringan dengan 175 kuintal. Di beberapa wilayah, seperti Kalasan, Pakem, dan Turi produksinya bahkan nol.
Plt Kepala DP3 Sleman Rofiq Andriyanto menilai, budi daya bawang merah lebih mudah dalam pengendalian hama penyakit dibanding cabai. Juga tidak ada hama tikus seperti ketika pertanian padi. Hanya saja memang untuk modal awal cukup besar.
"Tapi kami juga menyediakan untuk membantu penguatan modalnya," sebutnya dikonfirmasi Rabu (28/1).
Tantangan utama memang pada musim hujan. Meski demikian, Rofiq menyebut ada berbagai lokasi di Sleman yang tanahnya pasir sehingga serapan air cenderung lebih cepat. Di antaranya, Caturharjo, Selomartani, Depok, hingga Seyegan sisi utara.
"Apalagi Depok yang tanahnya masir. Cocok untuk tanaman umbi seperti ini. Lokasinya bisa jauh dari sawah," tambahnya.
Menurutnya, sudah ada berbagai lahan yang cocok. Rofiq pun berharap bawang merah memang bisa jadi salah satu pilihan bagi para petani. Lantaran selama ini produksi bawang merah di Sleman hanya berupa spot kecil. Belum ada satu sentra produksi satu pun dengan kapasitas petanian besar. Terlebih, harga bawang merah juga cenderung lebih stabil dibanding cabai.
"Kalau cabai sekarang Rp 80 ribu, sepuluh hari kemudian bisa turun jadi Rp 20 ribu. Memang lebih stabil dari sisi keamanan aset," katanya.
Meski demikian, pemilihan komoditas adalah kemerdekaan petani. DP3 tidak bisa melakukan pemaksaan. Apalagi dorongan penanaman bawang merah baru dimasifkan empat hingga lima tahun ke belakang.
Sementara itu, salah satu petani bawang merah, Mugiyo mengaku, bawang merah memang jadi pilihannya terutama saat kemarau. Sebab kebutuhan airnya tidak banyak. "Saya pakai sistem tumpang sari dengan cabai. Keuntungannya bisa satu sampai empat kali lipat dibanding padi," lontarnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita