Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masih Ada 449 Anak di Sleman Tidak Sekolah, Paling Banyak Usia 16 hingga 18 Tahun

Delima Purnamasari • Rabu, 21 Januari 2026 | 21:15 WIB

Sejumlah siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2025/2026, di SD Negeri Minomartani 2, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Senin (14/7).
Sejumlah siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2025/2026, di SD Negeri Minomartani 2, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Senin (14/7).


SLEMAN - Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman mencatat masih ada 449 anak yang tidak bersekolah. Sebanyak 277 di antaranya pada usia 16-18 tahun. Sementara untuk usia 13-15 tahun ada 89 orang. Sisanya adalah usia 7-12 tahun sebanyak 83 anak.

Mayoritas anak tidak sekolah adalah laki-laki sebanyak 312 orang. Sementara untuk perempuan 137 orang. Jika meninjau lokasinya, paling banyak berada di Kapanewon Prambanan dengan 57 orang.

Baca Juga: Tak Bisa Dibiarkan, BGN Berhentikan Sementara Operasional dan Evaluasi SPPG Kaliagung

Kabid PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Reni Tri Pujiastuti menjelaskan, anak tidak sekolah tersebut dibagi menjadi tiga katagori. Pertama, belum pernah bersekolah dengan jumlah 233 orang. Katagori ini didominasi dengan pendidikan model pesantren yang belum mendapatkan izin dan anak berkebutuhan khusus.

Katagori kedua adalah anak putus sekolah, yakni mereka sudah sekolah tetapi berhenti sebelum lulus. Mereka yang drop out ini berjumlah 133 orang. Sementara katagori ketiga adalah lulus tetapi tidak melanjutkan. Jumlahnya 83 orang.

Baca Juga: Prediksi Atalanta vs Athletic Bilbao Liga Champions Kamis 22 Januari Kick Off 03.00 WIB, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?

"Mereka sudah lulus SD sederajat tidak, tapi melanjutkan SMP sederajat. Atau lulus SMP sederajat tidak melanjutkan ke SMA sederajat," katanya dikonfirmasi Rabu (21/1).

Reni menilai, ada beragam alasan anak di Sleman tidak sekolah. Salah satu pemicunya adalah ketidakharmonisan orang tua. Kemudian anak memilih mencari kenyamanan di luar rumah. Di sisi lain, latar belakang ekonomi keluarga juga bisa memengaruhi. Utamanya pada pola asuh orang tua pada anaknya.

Baca Juga: Risma Ardhi Chandra Didapuk Jadi Plt Bupati Pati, Wagub Jateng Minta Berikan Pelayanan Terbaik untuk Masyarakat

Dia sebut ada berbagai upaya yang telah dilakukan dinas pendidikan. Mulai dari membentuk satuan tugas pencegahan dan penanganan anak tidak sekolah. Anggotanya berasal dari instansi lintas sektor. Upaya lainnya adalah memberi bantuan pendidikan agar mereka bisa kembali sekolah. Baik formal maupun non-formal.

"Kami juga mendata anak tidak sekolah dan diseminasi kembali bersekolah bersama Balai Dikmem Dikpora DIY," katanya.

Upaya lainnya adalah melakukan deteksi dini dan pendekatan kekeluargaan kepada siswa yang rentan putus sekolah. Saat ini juga tengah berproses rencana aksi penuntasan wajib belajar 13 tahun untuk anak Sleman.

Baca Juga: Baru Dua Bulan Beroperasi, SPPG Kaliagung Kulon Progo Punya SLHS Tapi Tetap Terjadi Keracunan MBG

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Susmiarto menjelaskan, perlu edukasi kepada keluarga dan masyarakat sekitar untuk membimbing anak yang tidak mau sekolah ini. Untuk akhirnya bisa melaksanakan wajib belajar 13 tahun.

"Jika anak usia sekolah tidak bersekolah alasan tidak ada biaya, silakan minta bantuan kami," sebutnya. (del/eno) 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#anak berkebutuhan khusus #tidak bersekolah #tidak sekolah #Sleman #Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman #Pendidikan #dinas pendidikan