Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bertepatan dengan Tahun Dal, Labuhan Merapi Tambah Ubarampe Pelana Kuda

Delima Purnamasari • Selasa, 20 Januari 2026 | 15:24 WIB

Kegiatan Labuhan Merapi
Kegiatan Labuhan Merapi
SLEMAN - Petilasan Mbah Maridjan, pagi ini, Selasa (20/1) terlihat sibuk. Museum yang berlokasi di Kinarejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman ini sudah dipenuhi ratusan orang. Abdi dalem, masyarakat umum, hingga wisatawan.

Mereka menuju satu titik di zona adat kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, yakni Bangsal Srimanganti. Pukul 06.15 rombongan mendaki menuju ketinggian sekira 1500 mdpl.

Jalanan licin, tanjakan, hingga hawa dingin tak menyurutkan semangat. Langkah sepatu, sandal, hingga tanpa alas terus melaju dengan latar Gunung Merapi yang terlihat cerah.

Rombongan yang dipimpin Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau akrab disapa Mbah Asih ini sesekali berhenti untuk mengambil napas.

Perhentian pertama adalah Pos Bedengan. Tikar digelar, dupa dibakar, dan doa dipanjatkan. Usai uluk salam, memohon agar proses peringatan Tingalan Jumenengan Dalem atau Ulang Tahun Kenaikan Takhta Sri Sultan HB X ini berjalan lancar. Gubernur DIJ tersebut sudah bertakhta 38 lamanya. Tepat pada Minggu Kliwon, 18 Januari 2026 atau 29 Rejeb Dal 1959.

Perjalanan terus dilanjutkan hingga di Bangsal Srimanganti. Di sini ubarampe Labuhan Merapi dibuka.

Di antaranya, satu lembar Semekan Gadhung, satu lembar Semekan Gadhung Mlathi, dan satu lembar Dhesthar Daramuluk. Khusus pada tahun Jawa Dal, tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada ubarampe yang berbeda.

Ada tambahan Kambil Watangan atau Pelana Kuda. Warnanya merah dan kuning dengan tutup kain hijau. Selama perjalanan pelana kuda digotong menggunakan kayu panjang.

"Jadi menurut sejarah, Eyang Megantoro itu memelihara kuda lalu memberikan pelana saja. Pelana itu pakaian kuda," terangnya ditemui di sela-sela acara.

Juru Kunci Gunung Merapi ini menyebut, Kambil Watangan ini juga tidak dilorot seperti ubarampe lainnya. Namun, akan dikembalikan ke keraton.

Nantinya akan digunakan kembali tiap delapan tahun sekali. Berbeda dengan ubarampe lain yang bisa diberikan pada masyarakat.

"Sudah banyak yang pesan. Dibagikan tapi memang tidak langsung bagi-bagi. Memesan dulu biar adil karana banyak yang membutuhkan," katanya.

Anak keempat dari enam bersaudara ini menyebut, untuk bisa mendapat lorotan ubarampe cukup mendaftar pada dirinya. Tidak ada biaya. Hanya saja memang terkadang harus menunggu jeda satu tahun karena antreannya panjang.

"Namanya sudah lorotan jadi diserahkan. Buat siapa saja, tidak harus orang keraton," katanya.

Puncak acara wilujengan atau kenduri ini diakhiri usai prosesi doa dipanjatkan dan pembuatan nasi kepal berserta lauk.

Berkat ini dibagikan pada pengunjung saat akan turun sebagai oleh-oleh dengan harapan bisa membawa berkah dan keselamatan.

Sementara itu, Wakil Bupati Danang Maharsa yang turut serta dalam rombongan mengaku, memang sengaja berniat untuk ikut serta sampai puncak.

Baginya ini adalah usaha untuk melestarikan tradisi. Termasuk upaya menjaga kesalarasan dengan manusia maupun alam.

"Bersama masyarakat memohon apa yang menjadi tujuan semoga dikabulkan Tuhan," katanya.

Danang menyebut tidak ada persiapan khusus. Terpenting hanya menjaga kondisi kesehatan saja. Disinggung soal mencari lorotan ubarampe Labuhan Merapi, dia tidak malu-malu mengakuinya.

"Insyaallah nanti dapat. Gak tau apa, sedapatnya. Yang penting niatnya sampai dulu," katanya.

Labuhan sendiri sejatinya berasal dari kata labuh. Artinya membuang, meletakkan, atau menghanyutkan. Tujuannya sebagai doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk. Upacara ini digelar sebagai napak tilas pendahulu Keraton Yogyakarta. (del)

Editor : Bahana.
#Sleman #Gunung Merapi #pelana kuda #labuhan merapi #tahun dal