Ayah korban, Surono menjelaskan, MIFR merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara.
Putra yang lahir pada 15 November 2020 lalu ini dia sebut anak istimewa karena menyandang disabilitas down syndrome dan bibir sumbing. Sampai saat terakhir juga masih berobat di RSUP Dr. Sardjito dan RSA UGM.
Saat kejadian memang Surono mengaku baru pulang dari kegiatan ronda. Lalu mencuci baju dan akan menjemur, tetapi putranya sudah tidak ada di kamar.
"Bajunya itu sudah dilepas di rumah. Anaknya sudah menghilang, saya cari gak ketemu," terangnya ditemui di rumah duka, Senin (19/1).
Saat proses pencarian, dia mendapat laporan anak tenggelam. Saat dicek ternyata benar bahwa itu adalah putranya.
Rumahnya memang hanya berbatasan jalan dengan Selokan Mataram. Selama ini putranya terus diawasi dan sudah tidak diperkenankan bermain di sekitar selokan.
"Kalau rumah memang enggak pernah dikunci. Malemnya juga masih banyak yang keluar masuk, saudaranya, kakeknya," katanya.
Surono menyebut, jenazah putranya sudah dimakamkan di Makam Gedongan. Tak jauh dari kediamannya pada pukul 10.00. (del)
Editor : Bahana.