YOGYAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan peningkatan pada periode pengamatan Selasa, 13 Januari 2026. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat terjadinya 2 kali awan panas guguran dan puluhan guguran lava ke arah Barat Daya.
Berdasarkan laporan resmi magma-VAR, Gunung Merapi saat ini masih berada pada Level III (Siaga). Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi bahaya di alur sungai yang berhulu di puncak Merapi.
Rincian Aktivitas Kegempaan dan Visual
Dalam periode pengamatan pukul 00:00-24:00 WIB, petugas pengamat Gunung Merapi, Suratno dan Yulianto, melaporkan data kegempaan yang cukup tinggi. Tercatat sebanyak 99 kali gempa guguran dan 67 kali gempa Fase Banyak (Hybrid) yang menandakan adanya suplai magma yang masih berlangsung.
Secara visual, gunung sering tertutup kabut, namun teramati aktivitas permukaan sebagai berikut:
Awan Panas Guguran: Terjadi 2 kali dengan durasi maksimal 123 detik dan amplitudo hingga 51 mm.
Guguran Lava: Teramati 7 kali guguran lava pijar mengarah ke Barat Daya (Kali Sat/Putih dan Kali Bebeng).
Jarak Luncur Maksimum: Guguran lava mencapai jarak 1.900 meter dari puncak.
Kondisi Meteorologi: Waspada Bahaya Lahar Hujan
Wilayah Merapi dilaporkan mengalami cuaca mendung hingga hujan dengan volume curah hujan mencapai 23 mm per hari. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di puncak Merapi.
Rekomendasi dan Zona Bahaya Merapi
BPPTKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat dan wisatawan di sekitar Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten:
1. Sektor Selatan-Barat Daya: Potensi bahaya guguran lava dan awan panas meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).
2. Sektor Tenggara: Meliputi Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km).
3. Radius Erupsi Eksplosif: Lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
4. Gangguan Abu Vulkanik: Masyarakat diminta mengantisipasi gangguan pernapasan dan aktivitas akibat sebaran abu vulkanik.
Baca Juga: Ketum PSSI, Erick Thohir: Ini Momen Sepak Bola Indonesia Masuk Era Baru Bersama John Herdman
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di zona bahaya tersebut," tulis laporan resmi BPPTKG.
Hingga saat ini, tingkat aktivitas belum berubah. Namun, BPPTKG menegaskan bahwa status akan segera ditinjau kembali jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan secara mendadak.
Sumber Data: KESDM, Badan Geologi, PVMBG – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin